Zaki di Panggung Gembira Pon Pes Darussalam Gontor  

Posted by Budi Setiawan in

video

Monggo dilanjut..

Manajemen Qurban dan Distribusi  

Posted by Budi Setiawan in



http://www.mediafire.com/?okiqgjd1yok

Monggo dilanjut..

SOEMPAH PEMOEDA 1928  

Posted by Budi Setiawan in


SOEMPAH PEMOEDA 1928
(benarkah kita berbahasa satu….???)

Kesadaran terhadap perlunya memantapkan perjuangan kebangsaan dirasakan oleh segenap kelompok Pemuda Indonesia waktu itu. Baik kelompok yang berbasis kedaerahan maupun agama (JIB). Menarik kalau kita simak isi naskah SOEMPAH PEMOEDA 128 :
POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA
Kerapatan Pemoeda-Pemoeda Indonesia jang diadakan oleh perkoempoelan-perkoempoelan pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan, dengan namanja: Jong Java, Jong Sumatranen Bond (Pemoeda Soematera), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen Pasoendan, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia;
membuka rapat pada tanggal 27 dan 28 October tahoen 1928 dinegeri Djakarta;
sesoedahnja mendengar pidato-pidato dan pembitjaraan jang diadakan dalam kerapatan tadi;
sesoedahnja menimbang segala isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini;
kerapatan laloe mengambil poetoesan:
PERTAMA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH-DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.
KEDOEA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.
KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.
Setelah mendengar poetoesan ini, kerapatan mengeloearkan kejakinan azas ini wadjib dipakai oleh segala perkoempoelan-perkoempoelan kebangsaan Indonesia;
mengeloearkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan dasar persatoeannja:
kemaoean
sejarah
bahasa
hoekoem-adat
pendidikan dan kepandoean;
dan mengeloearkan pengharapan soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala soerat kabar dan dibatjakan dimoeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan kita



Dari naskah tersebut terlihat dengan jelas “perbedaan” sikap dalam ketiga sumpah tersebut, untuk tumpah darah atau tanah air serta untuk bangsa, maka dengan tegas dinyatakan bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Demikian juga untuk bangsa, dinyatakan berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Tetapi untuk bahasa, menggunakan kalimat yang berbeda, yaitu “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Jadi kalau kita sekarang menyatakan “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa INDONESIA”. Nampaknya ada sesuatu yang rancu, karena kita sangat mengakui dan menghormati adanya bahasa daerah yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia.
Memang kita tidak perlu juga menyalahkan Liberty Manik yang menggubah lagu Satu Nusa Satu Bangsa, yang di dalam lagu tersebut juga menyebut “satu bahasa”. Tetapi jangan sampai kita bersikap “mendua”, di satu sisi menyatakan berbahasa satu bahasa Indonesia, tetapi pada sisi lain kita menggunakan dan melestarikan bahasa daerah.
Sebab sikap mendua dan salah kaprah bisa berakibat, kita menjadi bangsa yang tidak konsisten.

Monggo dilanjut..

MASYARAKAT PENGGEMAR ISU  

Posted by Budi Setiawan in



MASYARAKAT PENGGEMAR ISU
Kabar Kabur…Isu…berkali-kali menerpa warga masyarakat, dan tidak kapok2nya masyarakat untuk belajar dari hal itu. Kita masih kecil, ada isu penculikan anak oleh JIP MERAH akan mengambil bola mata anak-anak, lalu ada lagi isu “tangan epek-epek putih” yang meminta uang receh, kalau tidak diberi akan meninggalkan kain mori dan membuat orang mati. Itu hanyalah contoh kecil isu yang mewabah di masyarakat.
Pada era dunia maya, maka isu dengan cepat sekali menyebar, isu sering disebut juga HOAX, kabar sampah
Memang isu bisa bermacam-macam dari yang bermotif ekonomi, politik hingga sara. Sayangnya masyarakat mudah saja menelan isu itu mentah-mentah. Hal ini memang tidak lepas dari tingkat pendidikan masyarakat, yang kemudian masyarakat sangat mudah percaya pada isu, di lain pihak ada sekelompok orang yang membiarkan masyarakat tersebut menjadi bodoh sambil mengambil keuntungan, baik secara politik maupun ekonomi.
Isu Politik
Ketika jelang pemilu, maka banyak para politisi menebar isu melalui berbagai media, dari yang sekedar menempel gambar citra diri, sampai yang mampu menggelontorkan uang milyaran rupiah dengan isu kedermawanan, ataupun ada yang sengaja menyebar agen/kader untuk menyebar isu tentang calon pemimpin yang layak dipilih.
Isu ekonomi
Sistem perbankan sangat membutuhkan adanya “trust” kepercayaan nasabah terhadap bank, agar nasabah/masyarakat tetap mempercayakan uangnya untuk disimpan pada bank. Sebab apabila masyarakat termakan isu, maka akan terjadi “rush”, masyarakat akan menarik uangnya dari bank, sehingga menyebabkan bank tersebut akan “collapse”. Tetapi dipihak lain ada juga yang memanfaatkan isu tersebut, justru terkadang pemilik bank sendiri, dengan harapan pemerintah akan menggelontorkan danannya untuk menjaga likuiditas bank tersebut. Dalam hal ini pemerintah menjadi “korban” permainan.
Isu Sara/Agama
Isu sara/agama ini sangat mudah memakan korban, kita ingat “isu cina” di kota Solo pada tahun 80an, yang memakan korban harta yang tidak sedikit. Demikian juga isu pertentangan agama, pada tahun 2000 ketika ada percobaan pembakaran di Masjid Gedhe Kauman, maka isu yang berkembang jauh lebih dari itu. Para pemuda muslim, pada subuh pagi harinya berdatangan ke Masjid Gedhe dengan membawa berbagai senjata. Beruntung segera bisa diredam dan diberikan penjelasan.
Demikianlah isu selalu berkembang dan masyarakat selalu jadi korban. Isu Ninja, isu dukun santet, dan sederet isu terus berkembang dan masyarakat tetep saja mau dibohongi. Yang paling baru adalah isu Gempa, hari ini (Rabu, 07 Oktober 2009) ada isu Gempa di Sidoarjo dan Lampung, dan repotnya lagi-lagi lembaga pendidikan koq malah paling mudah terkena isu.
Kita sangat berharap agar masyarakat semakin terdidik, dan tidak mudah termakan isu, demikian pula pemerintah, dan para tokoh masyarakat bisa mendidik warganya dengan memberikan contoh yang baik. Karena isu akan terus berkembang yang salah satunya adalah isu kiamat..amargedon....
Wallahu a’lamu…..

Monggo dilanjut..

TUNTUNAN IDUL FITRI (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah)  

Posted by Budi Setiawan in


TUNTUNAN IDUL FITRI
(Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah)


A. Tinjauan Umum tentang Idul Fitri
Hari raya Islam disebut ‘Id’ karena pada hari itu Allah swt mempunyai kebaikan dan kemurahan yang kembali berulang-ulang dan dianugerahkan kepada makhluk-Nya setiap tahun yang membawa kegembiraan dan kepuasan. Kata ‘Id’ yang selalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan ‘hari raya’ menurut etimologinya berarti al-mausim = (اَلْمَوْسِمْ)musim, disebut demikian karena setiap tahun berulang.
Dinamakan Idul Fitri karena pada hari itu orang-orang Islam yang menjalankan puasa Ramadlan berbuka dan tidak lagi berpuasa seperti hari-hari sebelumnya selama bulan Ramadlan. Hari Idul Fitri ini dirayakan dengan melakukan shalat Idul Fitri secara berjamaah. Ibadah ini disyariatkan pada tahun pertama Nabi saw. sampai di Madinah.

B. Amal Ibadah dan Adab Menyambut Hari Raya Idul Fitri
1. Memperbanyak Takbir
Dalam rangka menyambut hari Idul Fitri dituntunkan agar orang memperbanyak takbir pada malam Idul Fitri sejak dari terbenamnya matahari hingga pagi hari ketika shalat ‘Id segera dimulai.
Takbir merupakan ekspresi kesadaran terhadap keagungan asma Allah dan kenisbian manusia di hadapan-Nya serta sebagai tanda syukur atas petunjuk yang diberikan-Nya. Selain itu takbir juga merupakan penampakan syiar agama Islam. Takbir dilakukan di masjid-masjid, di rumah-rumah, dan di jalan-jalan baik oleh mereka yang mukim maupun mereka yang musafir. Dalam pelaksanaan takbir (di masyarakat lebih dikenal dengan sebutan takbiran) umat Islam diharapkan tetap dapat menjaga ketertiban umum.
Ucapan takbir itu adalah,
اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.
Allaahu akbar Allaahu akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil-hamd.
Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha besar, Allah Maha besar dan segala puji bagi Allah.

2. Berhias dengan memakai pakaian bagus dan wangi-wangian
Orang yang menghadiri shalat Idul Fitri dituntunkan agar berpenampilan rapi, yaitu dengan berhias, memakai pakaian bagus dan wangi-wangian.
Perlu diperhatikan anjuran memakai pakaian bagus bukan berarti pakaian yang serba mahal dan baru, melainkan yang dipentingkan adalah kerapian dan kebersihannya sehingga bagus dipandang mata. Hari Idul Fitri bukan arena untuk mempertunjukkan perhiasan, kekayaan, dan kemewahan, melainkan hari pernyataan syukur kepada Allah dan pengagungan asma-Nya. Yang penting di sini adalah kekhusyukan hati dan kekhidmatan kalbu dalam meresapi nilai-nilai kemuliaan dan kegembiraan Idul Fitri.

3. Makan sebelum berangkat shalat Idul Fitri
Berbeda dengan Idul Adlha, untuk Idul Fitri orang yang hendak berangkat ke lapangan tempat shalat dituntunkan supaya terlebih dahulu makan pagi. Hal ini sesuai dengan sunnah yang dilakukan Nabi saw..

4. Berangkat dengan berjalan kaki dan pulang melalui jalan lain
Orang yang pergi shalat Idul Fitri, sebaiknya datang ke lapangan dengan berjalan kaki sambil bertakbir dan pulang dari shalat Idul Fitri melewati jalan lain dari yang dilaluinya ketika pergi, sesuai dengan sunnah Nabi saw..

5. Shalat dihadiri oleh semua umat Islam
Idul Fitri adalah suatu peristiwa penting dan hari besar Islam yang penuh berkah dan kegembiraan. Oleh karena itu pelaksanaan shalat dihadiri oleh semua orang Muslim tua, muda, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan, bahkan mereka yang pada saat itu terhalang untuk mengerjakan shalat, yaitu perempuan yang sedang haid, juga diperintahkan oleh Nabi saw. supaya menghadirinya. Hanya saja mereka tidak ikut shalat dan tidak masuk ke dalam shaf shalat, namun ikut mendengarkan pesan-pesan Idul Fitri yang disampaikan oleh khatib.


عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ. [رواه الترذي].

Artinya: Diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ia mengatakan: Rasulullah saw bersabda: Idul Fitri adalah hari ketika orang berbuka puasa dan Idul Adlha adalah hari ketika orang menyembelih kurban. [HR. at-Tirmidzi, dalam Sunan-nya, “Kitab as-Shaum,” hadis no. 802].


عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ اْلأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ. [رواه أبو داود والنسائي].

Artinya: Diriwayatkan dari Anas Ibnu Malik ia berkata: Rasulullah saw. tiba di Madinah (dan beliau melihat) mereka mempunyai dua macam hari yang mereka meriahkan dengan permainan. Beliau bertanya: Hari apa ini? Mereka menjawab: Di zaman Jahiliyah kami memeriahkannya dengan permainan. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari ini untuk kamu dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adlha dan Idul Fitri. [HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i].


1- وَلِتُكْمِلُوا اْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. [البقرة (2): 185].


Artinya: ... dan supaya kamu menyempurnakan bilangannya dan supaya kamu mengagungkan kebesaran Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan kepadamu dan supaya kamu bersyukur. [QS. al-Baqarah (2): 185].

2- عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ إِذاَ غَداَ إِلىَ الْمُصَلَّى يَوْمَ اْلعِيْدِ كَبَّرَ فَرَفَعَ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيْرِ، وَفِيْ رِوَايَةٍ كاَنَ يَغْدُوْ إِلى الْمُصَلَّى يَوْمِ اْلفِطْرِ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى يَوْمَ اْلعَيْدِ ثُمَّ يُكَبِّرُ بِالْمُصَلَّى حَتَّى إِذَا جَلَسَ اْلإِمَامُ تَرَكَ التَّكْبِيْرَ. [رواه الشافعي في مسنده جـ 1 : 153، حديث رقم 444 و 445].

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia apabila pergi ke tanah lapang di pagi hari Id, beliau bertakbir dengan mengeraskan suara takbirnya. Dalam riwayat lain (dikatakan): Beliau apabila pergi ke tempat shalat pada pagi hari Idul Fitri ketika matahari terbit, beliau bertakbir hingga sampai ke tempat shalat pada hari Id, kemudian di tempat shalat itu beliau bertakbir pula, sehingga apabila imam telah duduk, beliau berhenti bertakbir. [HR. asy-Syafi‘i dalam al-Musnad, I:153, hadis no. 444 dan 445].


عَنْ سَلْماَنَ قَالَ: كَبِّرُوْا اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا . وَجَاءَ عَنْ عُمَرَ وَاْبنِ مَسْعُوْدٍ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. [رواه عبد الرزاق بسند صحيح].

Artinya: Dari Salman (dilaporkan bahwa) ia berkata: Bertakbirlah dengan: Allaahu akbar, Allaahu akbar kabiiran. Dan dari Umar dan Ibnu Mas‘ud (dilaporkan): Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil-hamd. [HR. ‘Abdur-Razzaaq, dengan sanad sahih].
Mengenai ucapan takbir dan dalil-dalilnya lihat Keputusan Muktamar Tarjih XX di Garut (1976), ditanfiz oleh PP Muhammadiyah tahun 1977 (No. C/1-0175/77), dimuat dalam Berita Resmi Muhammadiyah, No. 76 (1977), h. 3 dan 8, serta 21, 24 dan 25.


1- عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كاَنَ يَلْبَسُ بُرْدَ حِبَرَةٍ فِيْ كُلِّ عِيْدٍ. [رواه الشافعي في المسند، جـ 1: 152، حديث رقم 441].

Artinya: Dari Ja‘far Ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya (dilaporkan) bahwa Nabi saw selalu memakai wool (burdah) bercorak [buatan Yaman] pada setiap Id. [HR. asy-Syafi‘i dalam kitabnya al-Musnad, I:152, hadis nomor 441].

2- عَنِ اْلحَسَنِ السِّبْطِ قَالَ: أَمَرَناَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِيْ العِيْدَيْنِ أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ ماَ نَجِدُ وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدِ ماَ نَجِدُ وَأَنْ نُضَحِّيَ بِأَسْمَنِ ماَ نَجِدُ (اَلْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ والجزر عن عَشَرَةٍ) وَأَنْ نُظْهِرَ التَّكْبِيْرَ وَالسَّكِيْنَةَ وَاْلوٍقَارَ. [وقال الحاكم بجهالة إسحاق بن برزخ، وليس هو بمجهول، فقد ضعفه الأزدي ووثقه ابن حبان كما في التلخيص].

Artinya: Diriwayatkan dari al-Hasan cucu Rasulullah saw (dilaporkan bahwa) ia mengatakan: Kami diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk pada dua hari raya [Idul Fitri dan Idul Adlha] memakai pakaian kami terbaik yang ada, memakai wangi-wangian terbaik yang ada, dan menyembelih binatang korban tergemuk yang ada (sapi untuk tujuh orang dan unta untuk sepuluh orang) dan supaya kami menampakkan keagungan Allah, ketenangan dan kekhidmatan. [Al-Hakim menyatakan Ishaq Ibnu Barzakh sebagai majhul, padahal sebenarnya tidak majhul. Al-Azdi mendlaifkannya, sementara Ibnu Hibban menyatakannya tsiqah (terpercaya), demikian ditegaskan di dalam at-Talkhish karangan Ibnu Hajar].


1- عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ ... وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا. [رواه البخاري].

Artinya: Diriwayatkan dari Anas Ibnu Malik bahwa ia berkata: Adalah Rasulullah saw tidak pergi ke shalat Idul Fitri sebelum beliau makan beberapa kurma. [HR. al-Bukhari].

2- عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلاَ يَطْعَمُ يَوْمَ اْلأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ. [رواه الترمذي].

Artinya: Diriwayatkan dari ‘Adullah Ibnu Buraidah dari ayahnya [yaitu Buraidah Ibnu al-Husaib] ia berkata: Rasulullah saw pada hari Idul Fitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Idul Adha tidak makan sampai shalat lebih dahulu. [HR. at-Tirmidzi].


1- عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَأَنْ تَأْكُلَ شَيْئًا قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ. [رواه الترمذي و قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ].

Artinya: Diriwayatkan dari ‘Ali Ibnu Abi Thalib ia berkata: Merupakan sunnah bahwa engkau keluar untuk shalat Id dengan berjalan kaki dan makan sesuatu sebelum keluar. [HR. at-Tirmidzi. Ia mengatakan: Ini adalah hadis hasan].

2- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ إِلَى الْعِيدِ رَجَعَ فِي غَيْرِ الطَّرِيقِ الَّذِي أَخَذَ فِيهِ. [رواه ابن ماجه].

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. apabila keluar pergi shalat Id, beliau kembali dengan melalui jalan lain dari yang dilaluinya ketika pergi. [HR. Ibnu Majah].


1- عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا. [رواه الجماعة واللفظ لمسلم].

Artinya: Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyyah bahwa ia berkata: Rasulullah saw memerintahkan kami supaya menyuruh mereka keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adlha: yaitu semua gadis remaja, wanita sedang haid dan wanita pingitan. Adapun wanita-wanita sedang haid supaya tidak memasuki lapangan tempat shalat, tetapi menyaksikan kebaikan hari raya itu dan panggilan kaum Muslimin. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana salah seorang kami yang tidak mempunyai baju jilbab? Rasulullah menjawab: Hendaklah temannya meminjaminya baju kurungnya. [HR. al-Jama‘ah, lafal dari Muslim].

2- عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ اْلأَنْصَارِيَّةِ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الْمُصَلَّى وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَالدَّعْوَةَ مَعَ الْمُسْلِمِينَ. [رواه أحمد].

Artinya: Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyyah al-Anshariyyah bahwa ia berkata: Rasulullah saw memerintahkan kami supaya menyuruh keluar semua gadis remaja, wanita sedang haid dan wanita pingitan. Adapun wanita sedang haid supaya tidak memasuki lapangan tempat shalat, tetapi menyaksikan kebaikan hari raya itu dan dakwah yang disampaikan khatib bersama kaum Muslimin. [HR. Ahmad].

Monggo dilanjut..

Ramadhan yang menggerakkan  

Posted by Budi Setiawan in



Ramadhan yang menggerakkan
Jauh sebelum Ramadhan tiba, berbagai takmir masjid, langgar dan mushalla maupun berbagai ormas Islam serempak mengadakan persiapan menyambut datangnya bulan Ramadhan. Antara lain dengan membentuk Panitia Gerakan Ramadhan, memang hal itu sangat penting mengingat perlu ada sekelompok orang yang menyeru dan menggerakkan masyarakat menyambut bulan suci Ramadhan


“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
Ayat tersebut telah mampu menggerakkan sekelompok ummat untuk mengadakan berbagai kegiatan mengisi bulan yang suci tersebut. Maka ketika bulan suci Ramadhan tiba, ummat secara leluasa dapat menjalankan ibadah Ramadhan, lengkap ibadah tathawu’ nya seperti jama’ah tarawih, tadarus, berbagai pengajian dan kajian.
Mesjid, langgar dan mushalla berubah drastis, setiap jama’ah shalat tiba, semua menjadi lebih penuh danm semarak terutama jamaah tarawih dan shubuh. Berbagai ceramah digelar, berbagai ilmu dicurahkan. Tidak hanya di masjid, berbagai media elektronik dan cetak membuat siaran khusus. Setiap santap sahur dan buka puasa, ummat akan ditemani dengan berbagai siaran khusus selama bulan Ramadhan.
Iman dan taqwa ummat Islam seakan terksitasi, meningkat dengan luar biasa. Kekhusukan, ketawadhu’an dalam beribadah akan nampak nyata. Tempat-tempat hiburan membatasi diri, bahkan sebagian menutup kegiatannya.
Sayangnya Ramadhan berlangsung “hanya sebulan”, selalu menjadi pertanyaan sejauh manakh ummat Islam mampu menyerap “energi” Ramadhan dan menyimpannya, sehingga ketika bulan Ramadhan berlalu suasana kekhusu’an dan ketawadhu’an ummat Islam akan senantiasa terjaga. Pendidikan dan pelatihan yang didapat selama bulan Ramadhan akan mampu merubah prilaku ummat Islam menuju akhlaqul karimah yang senantiasa dalam bimbingan Ilahi.
Tiada salah kita semua berharap Ramadhan 1430 H ini akan mampu memperkaya iman dan taqwa kita bersama, sehingga Ramadhan tahun ini adalah betul-betul meruapakan Ramadhan yang menggerakkan… Insya Allah.
Selamat Berpuasa
Selamatkan Puasamu
Siapa tahu Ramadhan ini terakhir buatmu

Monggo dilanjut..

Memperdalam Ilmu Agama Liyatafaqqahu fi ddien  

Posted by Budi Setiawan in


Memperdalam Ilmu Agama
Liyatafaqqahu fi ddien


“tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At Tubah : 122)
Tahun ajaran 2008-2009 akan segera berakhir, pengumuman hasil UNAS diwarnai berbagai hal, baik yang menggembirakan maupun meyedihkan sekaligus mengherankan. Kita lihat mereka yang barus lulus menunjukkan kegembiraannya dengan berbagai hal, dari yang saling menyemprot “pilok” ataupun yang konvoi keliling kota sampai yang menuju masjid untuk melakukan sujud syukur.
Kewajiban mencari ilmu memang sudah mentradisi di masyarakat, dan sistem pendidikan kita yang berjenjang membuat seluruh masyarakat mencoba untuk bertarung mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Apalagi kesempatan yang belum merata serta beaya pendidikan yang cukup tinggi untuk sekolah swasta. Semuanya saling berebut untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang baik dan murah.
Masyarakatpun menyadari bahwa kesempatan meraih pendidikan “yang baik” akan membuka kesempatan lapangan kerja yang menjanjikan. Pada pandangan masyarakat menjadi sarjana teknik, dokter, sarjana hokum atau sarjana yang menguasai pendidikan umum akan membuka peluang lapangan kerja. Itu tidak salah, memang pada kenyataannya lapangan kerja membutuhkan persyaratan tersebut. Kalau kita lihat di IKLAN LOWONGAN tentu akan menyebutkan berbagai persyaratan tersebut. Jarang sekali kita lihat iklan lowongan yang mencari sarjana penghafal qur’an atau sejenisnya, kalau adapun sangat terbatas.
Masyarakat membutuhkan para ahli agama hanya pada saat tertentu, kematian, pernikahan atau “sekedar” pengajian. Hal inilah yang membuat sedikit warga masyarakat yang “mengikhlaskan” anaknya untuk menuntut ilmu agama di Pondok Pesantren ataupun madrasah, sebagian menganggap “tidak menjanjikan” masa depan yang baik.
Maka perlu kita mengkaji ayat At Taubah-122, ketika Allah SWT mengingatkan agar jangan semuanya pergi berperang, tetapi hendaknya tetap ada yang meperdalam ilmu agama, agar nantinya bisa member peringatan kepada kaumnya. Ayat tersebut sangat perlu kita kaji sekarang ini, memang saat ini tidak musim perang. Tetapi “kata perang” yang difahami dari ayat tadi bias kita ganti dengan “mencari ilmu pengetahuan umum”. Jadi jangan semua pergi mencari ilmu pengetahuan umum, tetapi hendaknya ada dari setiap kelompok (firqah) yang memperdalam ilmu agama “liyataqqahu fi ddien”.
Berkenaan dengan ayat tersebut , marilah kita coba dari setiap kelompok (jamaah masjid) mengupayakan adanya sebagian anak-anak yang sejak awal diarahkan untuk menuntut ilmu agama, dan bila perlu dengan pembiayaan dari jamaah. Karena kalau kita lihat ayat tersebut bisa dikategorikan “wajib kifayah” untuk menyediakan adanya sebagian warga yang menuntut ilmu agama. Jangan pelajar yang mau jadi santri adalah mereka yang memang modal kurang, atau karena sudah diterima di perguruan umum, terus kemudian baru ke madrasah atau pondok pesantren. Masih sering didengar adanya pernyataan sebagian warga masyarakat :” Wah nilainya bagus koq masuk pondok pesantren” atau bahkan sebagian guru juga mengatakan demikian, sungguh suatu kenyataan yang memprihatinkan.
Kalau kita lihat dalam sejarah ilmu agama Islam, maka kita bias melacak orang-orang yang “liyataqqahu fi ddien” adalah mereka yang mempunyai “otak encer” kemampuan dan kecerdasan yang utama. Kita lihat para imam madzhab, para penghafal hadits, juga ilmuwan-ilmuwan Islam masa lampau adalah orang-orang yang mempunyai kecerdasan hebat.
Pada saat ini kita memang masih punya sederet ulama terkemuka, tetapi kalau kita tidak cermat, maka kita akan kehilangan bila tidak cepat menyediakan stok ulama masa depan. Maka perlu kita menyediakan sebagian warga kita atau bahkan anak-anak kita untuk menuntut ilmu agama di madrasah ataupun pondok pesantren. Marilah dengan sungguh-sungguh mengajak anak-anak kita untuk mencintai ilmu agama atau paling tidak kita ikut mendukung warga atau keluarga kita untuk menuntut ilmu agama. Insya Allah di masa depan akan lahir para alim ulama terkemuka yang nantinya akan memberikan pencerahan kepada kita semua juga kepada keluarga kita yang menuntut ilmu pengetahuan umum.

Monggo dilanjut..

Displin dan kesemrawutan Lalu Lintas  

Posted by Budi Setiawan in



Disiplin Lalu Lintas
Ada sesuatu yang agak berbeda pagi ini, ketika berhenti di “bang-jo” Nampak polisi mencoba menertibkan agar pengguna jalan tidak melanggar marka jalan. Tetapi sayang….nampak polisi kurang konsisten, pada awalnya semua tidak boleh melanggar marka jalan dan teratur ke belakang, tetapi berikutnya mereka yang datang belakangan dan berebut di depan sehingga melanggar marka jalan didiamkan. Hal ini membuat yang sudah tertib menjadi “nggondhok”. Begitulah kedisiplinan dan penegakan hukum memang membutuhkan sikap konsistensi
Kalau kita merujuk pada UU LLAJ tahun 1992, pasal 1 ayat 6. “Kendaraan adalah suatu alat yang dapat bergerak di jalan, terdiri dari kendaraan bermotor atau kendaraan tidak bermotor”. Tetapi pada kenyataannya dapat dilihat para pemakai kendaraan tidak bermotor sebagain sangat tidak berdisiplin, bahkan melanggar lampu “bang-jo” dengan seenaknya tak pernah mendapat teguran dari polisi yang berjaga disitu. Sehingga seakan terkesan bahwa pemakai kendaraan tidak bermotor tidak termasuk dalam aturan UU LLAJ tahun1992.
Ketidaksabaran dan ketidakdisiplinan para pengguna jalan adalah sumber utama kesemrawutan, di samping fasilitas jalan yang memang kurang memadai. Tetapi sumber utama kesemrawutan tetaplah pada sikap para pengguna jalan sendiri. Munculnya sikap tidak disiplin ini juga dimungkinkan oleh inkonsistensi penegakan peraturan di jalan oleh mereka yang semestinya menegakkan peraturan. Sehingga para pengguna jalan yang semula mencoba untuk disiplin, kemudian mulai ikut-ikutan melanggar setelah melihat yang melanggarpun tidak pernah mendapat teguran.
Pada sisi lain, yang menyumbang pada kesemrawutan lalu-lintas adalah kendaraan umum, terutama bus kota (diperkotaan). Karena alasan “target setoran” maka mereka dengan enaknya melanggar peraturan, melanggar marka jalan, serta menaik-turunkan di sembarang tempat. Inilah yang kemudian menunjukkan citra masyarakat yang tidak taat hukum. Perilaku masyarakat yang tidak mentaati peraturan lalu lintas akan menimbulkan sikap masyarakat yang apatis dan masa bodoh.

Monggo dilanjut..

KARTINI-an (Penggerusan Nilai Juang RA Kartini)  

Posted by Budi Setiawan





KARTINI-an
Jelang tanggal 21 April, ibu-ibu pada ribut, apalagi yang anaknya duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Ribut mencari pinjaman pakaian daerah bagi anak-anaknya untuk perayaan Hari Kartini. Demikian para pelajar sibuk mematut diri di persewaan pakaian daerah. Berbagai kegiatan juga digelar, ada lomba “ngadi salira”, lomba berhias diri, lomba masak, ada juga lomba memasak bagi bapak-bapak. Semuanya dimaksudkan untuk mengenang Tokoh Perempuan RA Kartini yang lahir 21 April 1879.
RA Kartini seorang perempuan yang rajin menulis surat kepada para sahabatnya di Belanda, yang sangat prihatin atas nasib kaumnya, terutama dalam bidang pendidikan. Keprihatinan itu kemudian diwujudkan dengan mendirikan sekolah gratis untuk perempuan di lingkungannya. Demikian juga semangat RA Kartini untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan, yang saat itu menadapatkan ketidakadilan oleh suasana tradisi yang berpihak kepada kaum lelaki.
Semangat Kartini itu telah menunjukkan hasilnya, diberbagai tempat muncul tokoh-tokoh perempuan dengan berbagai bidang keahlian. Perempuan Indonesia bahkan bangsa Indonesia berterimakasih pada RA Kartini. Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melaui Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Lebih seabad perjuangan Kartini telah berkembang, kaum perempuan Indonesia merasakan jasa-jasanya. Tetapi apa yang dilakukan kaum perempuan setiap kali memperingati Hari kartini. Murid-murid menggunakan pakaian daerah, lomba berhias dan berbagai kegiatan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjuangan RA Kartini. Tetapi begitulah kebiasaan yang mentradisi telah menghilangkan makna perjuangan RA Kartini, dan masyarakatpun tidak mempedulikannya. Seakan kegiatan itu “tak ada salahnya”…..kapan kaum perempuan akan sadar…..wallahu a’lamu…..

Monggo dilanjut..

ML digigit mayat……  

Posted by Budi Setiawan in ,


ML digigit mayat……
Tahun 1978 adalah tahun pertama saya berkenalan dengan mayat. Kejadiannya ketika adik sepupu meninggal dan saya ikut merwat jenazahnya (memandikan). Sejak itu menjadi “kegemaran” untuk selalu ikut memandikan jenazah. Tahun 1980 di kampung Kauman, diadakan Pelatihan Perawatan dan pemberi materi adalah ayahanda Haiban Hajid. Saya bukan lagi peserta tetapi menjadi asisten dalam pelatihan itu.
Sejak itu ada beberapa teman yang selalu siap dipanggil setiap saat untuk merawat jenazah. Pukul berapapun baik pagia siang maupun malam selalu siap, bahkan kadang-kadang beberapa Rumah Sakit minta bantuan untuk merawat jenazah.
Berbagai “jenis” jenazah dengan berbagai kondisi membuat pengalaman dan jam terbang semakin tinggi, mulai bayi usia 5 bulan dalam kandungan hingga korban kebakaran, serta korban kecelakaan menambah pengalaman. Jadi bisa tahu bagaimana membersihkan darah yang sudah kering di kepala, atau cara meluruskan kaki dan tangan yang sudah kaku.
Pengalaman dengan berbagai urusan kematian, mulai dari menunggui orang jelang ajal, hingga sambutan pelepasan jenazah. Dari berbagai kegiatan itu seorang sahabat menjuluki saya dengan gelar ML (Master of Layatan), dan ternyata tetman tersebut malah sudah mendahului manghadap sang Khaliq.
Pengalaman yang menarik adalah ketika memandikan bayi (meninggal dalam kandungan), ketika itu sedang ronda, ada teman dating yang mengatakan “Mas Budi ada jenazah bayi minta dimandikan”. Tanpa piker panjang terus ke RS PKU dan masuk kamar jenazah, ternyata “kosong”, saya jumpai keluarganya dan tanyakan “mana jenazahnya”, “ada di dalam”. Sayapun masuk diantar seorang perawat yang menunjukkan jenazahnya, ternyata ada dalam sebuah baskom kecil. “Masya Allah…” untung hanya terucap dalam hati, karena baru pertama kalai melihat mayat sekecil itu, tidak lebih dari dari 15 cm, berwarna merah daging, meski sudah terlihat bagian kaki dan tangan yang sangat mungil. Meski agak grogi, aku ambil sarung tangan karet dan aku letakkan “mayat” tersebut di telapak tangan, kemudian ambil kapas dibasahain untuk bersihkan sisa-sisa darah di ‘mayat” tersebut. Lalu saya letakkan mayat tersebut pada kapas, dan dibungkus dengan kapas tersebut, baru dengan kain kafan/mori. Esoknya usai mengantar jenazah ke pemakaman, trus makan siang, ternyata lauknya paha ayam berwarna merah…….”ah..persis warna mayat semalam…” jadi ga jadi makan. Tetapi untung hanya sekali itu, selanjutnya biasa aja.
Pengalaman lain ketika memandikan jenazah laki-laki tua sekitar 70 tahun, yang meninggal di RS Sarjito, dan dimandikan di rumah. Ketika tengah memandikan, istrinya bilang “mas Budi…bapak masih memakai gigi palsu…”. Maka saya coba buka mulutnya….wah ternyata sudah kaku, meski sukar saya coba membuka mulutnya, ketika mulut sudah terbuka, saya copot gigi palsu tersebut. Ketika sedang berusaha mencopot, tiba-tiba..”sreeet” mulut tersebut mengatup lagi…dan jari saya tergigit. Sekali itu saya digigit mayat, dan ternyata cukup sakit juga.
Pengalaman jenazah massal adalah ketika peristiwa Tsunami di Aceh (2004) dan gempa Jogja (2006), meski sudah masuk minggu ke dua ketika saya datang di Aceh, masih ada jenazah yang baru diketemukan. Gempa di Jogja, menjadikan saya sekeluarga sibuk menangani jenazah di RS PKU, puluhan jenazah antri untuk dirawat.
Sekarang sudah lebih 30 tahun, menangani berbagai jenazah, bahkan kadang-kadang juga diminta memberikan pelatihan perawatan jenazah. Pengalaman paling berkesan adalah ketika saya bersama kakak memasukkan jenazah ibunda di dalam liang lahat (1993) serta di tahun 2007 memandikan jenazah ayahanda, mengkafani hingga memasukkan liang lahat. Demikian juga pengalaman merawat jenazah tokoh-tokoh serta ulama besar menjadikan kesan tersendiri.

Monggo dilanjut..