Gerhana Matahari 15 Januari 2010  

Posted by Budi Setiawan in ,

Kejadian Alam yang sangat indah, Gerhana Matahari 15 Januari 2010

Monggo dilanjut..

Toko Cat Terbakar (SEMANGAT RELAWAN)  

Posted by Budi Setiawan in

Toko Cat Terbakar di Yogyakarta
Headline News / Nusantara / Senin, 11 Januari 2010 22:01 WIB

video
Metrotvnews.com, Yogyakarta: Kebakaran menghanguskan toko cat Warna Abadi di Jalan Urip Sumoharjo, Yogyakarta, Senin (11/1). Tiga orang karyawan terluka karena nekat melompat dari lantai tiga toko.

Menurut saksi, kebakaran didahului suara ledakan dari dalam toko. Setelah sadar toko terbakar, karyawan toko langsung berhamburan keluar. Sebelas unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi. Diduga api berasal dari percikan api kecil di tempat penyimpanan tiner di belakang toko.
Tiga karyawan dilarikan ke Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Mereka terluka ringan dan mengalami gangguan pernapasan akibat terlalu banyak menghirup asap. Sejumlah karyawan lainnya sempat terjebak kobaran api. Mereka berhasil terselamatkan setelah memanjat tembok bangunan di samping toko.
Api berhasil dikuasai dan tidak menjalar ke bangunan lain. Pihak dari Kepolisian Kota Besar Yogyakarta masih mengumpulkan keterangan untuk penyebab pasti kebakaran.
Berita di atas dikutip dari METROTVNEWS. Pemuatan ini semoga jauh dari "sikap pamer /riya'" tetapi dimaksudkan untuk menunjukkan pentingnya sikap peduli kepada sesama yang sedang mendapatkan musibah.

Sore itu cerita kebakaran saya muat di Facebook, seperti tersebut di bawah, berikut juga dengan komentar dari teman-teman. Demikian juga video dari METRO TV saya buat linknya dan juga komentar dari teman-teman

LAPORAN : TOKO CAT WARNA ABADI PEREMPATAN DEMANGAN Pukul 16.05 terbakar, saya tiba pk 16.07. Pukul 16.25 Pasukan PBK datang. Alhamdulillah bisa ikut bantu ALLAHU AKBAR. Ledakan bertubi dari kaleng cat dan minyak cat. Pukul 17.10.. alhamdulillah api bisa dikuasai.....basah kuyup..berbalut cat...(sayang foto belum bisa di upload..masih di HP)


Muhammad Isnawan, Kurniawan Bisandika, Novia Liza and 13 others like this.

Saptaji Noor Ariwijaya
semoga kebaikan Pak Budi hari ini dibalas oleh Alloh Subhanahu wa ta'ala dgn berjuta kebaikan pula...Amiiin
Mon at 18:04 ·

Muji Raharja
Semoga kepedulian,perjuangan bapak dijadikan teladan generasi muslim kita.
Mon at 18:06 ·

Dian Achtiana Hesti
Wah SALUT.... Smg dicatat malaikat mjd tabungan amal kebaikan, aamiin... Ngatos atos lho, bahan cat sangat mudah terbakar...
Mon at 18:11 ·

Unun Crabby Pratiwi
Semoga jadi amalnya .......Bro
Mon at 18:32 ·

Abdul Aziz
barusan kelihatan pak di Metro...action pak budi sedang memegang selang....Bravo!!!
Mon at 22:06 ·

Indra Yanto
MANTAP.. bravo relawan pak..
Mon at 22:15 ·

Budi Setiawan
@all : Terima kasih atas doa dan dukungannya. Sdikit cerita, ketika saya mengajak petugas masuk ke toko untuk lebih bisa memadamkan api, petugas PBK : "Bapak yg punya..." sy jawab "bukan..relawan aja.."
Yesterday at 07:31 ·
Write a comment...

Dranantya Wirawan
itu pakde budi yang keliatan mbantu angkat selangnya ya? wow!!!
Yesterday at 08:28 ·

Elyza Areif
Subhanallah....keliatan sibuk banget relawannya...tanpa pamrih, gak mikirin resiko..yang penting menolong dulu ya pak?!...
Yesterday at 08:50 ·

Trisula De'Es
Contoh yg terpuji, mari kita hidupkan lagi semangat Gotong Royong pak.
Yesterday at 09:34 ·

Arfi Ummu Farid
wah eyang ada di tv,lg nolong kebakaran d gejayan ya,eyangku emang hebat!!:)
Yesterday at 12:13 ·

Monggo dilanjut..

PETA GERHANA 2010  

Posted by Budi Setiawan in ,

PETA GERHANA 2010


Sebagai seorang beriman dan berilmu kita semua mengetahui, bahwa peredaran benda-benda langit terikat pada SUNNATULLAH dan kita juga mengetahui bahwa terjadinya peristiwa alam seperti gerhana bulan ataupun matahari adalah suatu kejadian "luar biasa" karena tidak terjadi setiap saat, tetapi juga "biasa" karena bisa diperhitungkan sebelumnya.
Agama Islam menjelaskan fenomena alam itu dengan bentuk ibadah, yaitu melaksanakan sholat gerhana. Untuk itu diperlukan satu ilmu yang dapat memperhitungkan peristiwa tersebut. Alhamdulillah atas jasa baik mas Mutoha sudah dibuat Peta Gerhana 2010, sehingga dengan mudah kita dapat memperhitungkan terjadinya peristiwa alam tersebut. dan yang lebih penting adalah mensosialisaikan hal tersebut kepada ummat dan mempersiapkan pelaksanaan sholat gerhana.


Untuk lebih rinci silahkan klik link di bawah ini :
http://rukyatulhilal.org/peta-gerhana/gmc15012010.html
http://rukyatulhilal.tripod.com/peta-gerhana/

Monggo dilanjut..

PENGECUT – PEMAAF – PELUPA MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO  

Posted by Budi Setiawan in






Sejarah bangsa Indonesia Merdeka, memang diwarnai aneka warna dan dinamika politik, seiring dengan jatuhnya bangunnya kekuasaan. Dari presiden pertama Sokarno, Suharto, Habibi, Gus Dur, yang berhenti dengan tidak mulus menampakkan dinamika politik yang belum mapan di Negara ini, meskipun terkadang lebih banyak pada dinamika elit politik atau masyarakat yang vocal. Sementara sebagian besar masyarakat lebih banyak diam.
Bung Karno presiden Indonesia pertama, begitu mampu menyihir masyarakat Indonesia, sehingga ketika mengeluarkan “DEKRIT 1959” boleh dikata tidak ada perlawanan. Sayangnya beliau kurang mawas diri, sehingga pidato pertanggungjawabannya ditolak, dan beliau harus lengser. Dalam era orde baru nama Bung Karno seakan tenggelam, jasanya sebagai proklamator nyaris tidak pernah diingat. Ketika Bungkarno wafat, tahun 1971, orang pun berduka dengan setengah hati. Semua terfokus pada Pak Harto sebagai presiden dengan segala atribut kekuasaannya.
Kekuasaan 0rde Baru masuk ke dalam semua sisi kehidupan, tiada lagi tersisa, sehingga dengan semangat gelar Bapak Pembangunan disematkan ke Pak Harto. Setiap pesta demokrasi lima tahunan, selalu ada Apel Kebulatan Tekad untuk mendukung Pak Harto sebagai Presiden kembali. Rakyat bergembira….yang semula takutpun sudah lupa takutnya….untuk takutpun sudah takut.
Roda Sejarah terus berputar ….seiring memburuknya perekonomian bangsa, Pak Harto pun jatuh, dia yang semula dielu-elukan, dalam waktu sekejap dicampakkan. Habibi yang menjabat presiden, dalam waktu singkat mampu menaikkan kembali nilai rupiah yang sebelumnya merosot. Tetapi rupanya prestasi Habibi belum mampu membuat pidato pertanggungjawabannya diterima, diapun dicampakkan.
Melalui liku politik di sidang MPR, terpilih Gus Dur sebagai presiden ke empat republik ini. Gebrakan demi gebrakan dia lakukan, berbagai isu pun muncul. Nama Bung Karno kembali menggelora, stadion utama Senayan dijadikan Gelora Bung Karno, masyarakat kembali mengelu-elukan Bung Karno. Tetapi berbagai kebijakan Gus Dur mendapat banyak perlawanan, kesibukan Gus Dur ke luar negeri mengundang protes, serta muncul isu pribadi seputar Gus Dur, Ini semua membuat MPR merasa perlu bertindak dengan melalui mekanisme memorandum.
Memorandum 1 dilontarkan oleh MPR, disusul memorandum 2, Gus Dur terpancing, sehingga muncul Dekrit Presiden. Karena tidak punya kekuatan politik yang memadai serta tiada dukungan militer, akhirnya Gus Dur pun jatuh. Megawati naik sebagai presiden, otomatis nama Bung Karno semakin berkibar. Sayangnya pada dua pemilu berikutnya Megawati tidak berhasil.
Pada pemerintahan SBY yang kedua Gus Dur meninggal dunia, SBY menyatakan berkabung nasional selama seminggu. Rakyatpun berlomba menyatakan duka-citanya, bahkan mereka yang dulunya berseberangan melupakan semuanya, baik lawan politik seperti Amien Rais, ataupun lawan internal PKB seperti Muhaimin Iskandar, melupakan semua perseteruannya. Semuanya mendukung penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk Gus Dur. Yang menarik ditengah hiruk-pikuk dukungan muncul dukungan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk Pak Harto, penguasa orde baru.
Begitulah, bangsa Indonesia yang oleh Gus Dur dikatakan pengecut, karena tidak berani menghukum mereka yang bersalah. Ternyata juga mudah melupakan kesalahan para pemimpinnya, meski mereka harus dicampakkan atau dilengserkan sekaligus juga menjadi bangsa pemaaf.
Kita tentu masih ingat ucapan Bung Karno :”JAS MERAH, Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah…”. Demikian ucapan Pak Harto :”Kita harus mikul dhuwur, mendhem jero…..” dan kata Gus Dur :”bangsa Pengecut….”
Kita semua jadi ingat sebuah buku “MANUSIA DALAM KEMELUT SEJARAH” terbitan LP3ES atau tulisan “Manusia Indonesia” yang terbit tahun 70-an. Sejarah mestinya menjadi kaca tempat kita bercermin…sesudah itu..terserah penguasa..eh..anda.
Wallahu a’lamu bishshowwaab.

Monggo dilanjut..

Zaki di Panggung Gembira Pon Pes Darussalam Gontor  

Posted by Budi Setiawan in

video

Monggo dilanjut..

Manajemen Qurban dan Distribusi  

Posted by Budi Setiawan in



http://www.mediafire.com/?okiqgjd1yok

Monggo dilanjut..

SOEMPAH PEMOEDA 1928  

Posted by Budi Setiawan in


SOEMPAH PEMOEDA 1928
(benarkah kita berbahasa satu….???)

Kesadaran terhadap perlunya memantapkan perjuangan kebangsaan dirasakan oleh segenap kelompok Pemuda Indonesia waktu itu. Baik kelompok yang berbasis kedaerahan maupun agama (JIB). Menarik kalau kita simak isi naskah SOEMPAH PEMOEDA 128 :
POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA
Kerapatan Pemoeda-Pemoeda Indonesia jang diadakan oleh perkoempoelan-perkoempoelan pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan, dengan namanja: Jong Java, Jong Sumatranen Bond (Pemoeda Soematera), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen Pasoendan, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia;
membuka rapat pada tanggal 27 dan 28 October tahoen 1928 dinegeri Djakarta;
sesoedahnja mendengar pidato-pidato dan pembitjaraan jang diadakan dalam kerapatan tadi;
sesoedahnja menimbang segala isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini;
kerapatan laloe mengambil poetoesan:
PERTAMA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH-DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.
KEDOEA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.
KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.
Setelah mendengar poetoesan ini, kerapatan mengeloearkan kejakinan azas ini wadjib dipakai oleh segala perkoempoelan-perkoempoelan kebangsaan Indonesia;
mengeloearkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan dasar persatoeannja:
kemaoean
sejarah
bahasa
hoekoem-adat
pendidikan dan kepandoean;
dan mengeloearkan pengharapan soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala soerat kabar dan dibatjakan dimoeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan kita



Dari naskah tersebut terlihat dengan jelas “perbedaan” sikap dalam ketiga sumpah tersebut, untuk tumpah darah atau tanah air serta untuk bangsa, maka dengan tegas dinyatakan bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Demikian juga untuk bangsa, dinyatakan berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Tetapi untuk bahasa, menggunakan kalimat yang berbeda, yaitu “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Jadi kalau kita sekarang menyatakan “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa INDONESIA”. Nampaknya ada sesuatu yang rancu, karena kita sangat mengakui dan menghormati adanya bahasa daerah yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia.
Memang kita tidak perlu juga menyalahkan Liberty Manik yang menggubah lagu Satu Nusa Satu Bangsa, yang di dalam lagu tersebut juga menyebut “satu bahasa”. Tetapi jangan sampai kita bersikap “mendua”, di satu sisi menyatakan berbahasa satu bahasa Indonesia, tetapi pada sisi lain kita menggunakan dan melestarikan bahasa daerah.
Sebab sikap mendua dan salah kaprah bisa berakibat, kita menjadi bangsa yang tidak konsisten.

Monggo dilanjut..

MASYARAKAT PENGGEMAR ISU  

Posted by Budi Setiawan in



MASYARAKAT PENGGEMAR ISU
Kabar Kabur…Isu…berkali-kali menerpa warga masyarakat, dan tidak kapok2nya masyarakat untuk belajar dari hal itu. Kita masih kecil, ada isu penculikan anak oleh JIP MERAH akan mengambil bola mata anak-anak, lalu ada lagi isu “tangan epek-epek putih” yang meminta uang receh, kalau tidak diberi akan meninggalkan kain mori dan membuat orang mati. Itu hanyalah contoh kecil isu yang mewabah di masyarakat.
Pada era dunia maya, maka isu dengan cepat sekali menyebar, isu sering disebut juga HOAX, kabar sampah
Memang isu bisa bermacam-macam dari yang bermotif ekonomi, politik hingga sara. Sayangnya masyarakat mudah saja menelan isu itu mentah-mentah. Hal ini memang tidak lepas dari tingkat pendidikan masyarakat, yang kemudian masyarakat sangat mudah percaya pada isu, di lain pihak ada sekelompok orang yang membiarkan masyarakat tersebut menjadi bodoh sambil mengambil keuntungan, baik secara politik maupun ekonomi.
Isu Politik
Ketika jelang pemilu, maka banyak para politisi menebar isu melalui berbagai media, dari yang sekedar menempel gambar citra diri, sampai yang mampu menggelontorkan uang milyaran rupiah dengan isu kedermawanan, ataupun ada yang sengaja menyebar agen/kader untuk menyebar isu tentang calon pemimpin yang layak dipilih.
Isu ekonomi
Sistem perbankan sangat membutuhkan adanya “trust” kepercayaan nasabah terhadap bank, agar nasabah/masyarakat tetap mempercayakan uangnya untuk disimpan pada bank. Sebab apabila masyarakat termakan isu, maka akan terjadi “rush”, masyarakat akan menarik uangnya dari bank, sehingga menyebabkan bank tersebut akan “collapse”. Tetapi dipihak lain ada juga yang memanfaatkan isu tersebut, justru terkadang pemilik bank sendiri, dengan harapan pemerintah akan menggelontorkan danannya untuk menjaga likuiditas bank tersebut. Dalam hal ini pemerintah menjadi “korban” permainan.
Isu Sara/Agama
Isu sara/agama ini sangat mudah memakan korban, kita ingat “isu cina” di kota Solo pada tahun 80an, yang memakan korban harta yang tidak sedikit. Demikian juga isu pertentangan agama, pada tahun 2000 ketika ada percobaan pembakaran di Masjid Gedhe Kauman, maka isu yang berkembang jauh lebih dari itu. Para pemuda muslim, pada subuh pagi harinya berdatangan ke Masjid Gedhe dengan membawa berbagai senjata. Beruntung segera bisa diredam dan diberikan penjelasan.
Demikianlah isu selalu berkembang dan masyarakat selalu jadi korban. Isu Ninja, isu dukun santet, dan sederet isu terus berkembang dan masyarakat tetep saja mau dibohongi. Yang paling baru adalah isu Gempa, hari ini (Rabu, 07 Oktober 2009) ada isu Gempa di Sidoarjo dan Lampung, dan repotnya lagi-lagi lembaga pendidikan koq malah paling mudah terkena isu.
Kita sangat berharap agar masyarakat semakin terdidik, dan tidak mudah termakan isu, demikian pula pemerintah, dan para tokoh masyarakat bisa mendidik warganya dengan memberikan contoh yang baik. Karena isu akan terus berkembang yang salah satunya adalah isu kiamat..amargedon....
Wallahu a’lamu…..

Monggo dilanjut..

TUNTUNAN IDUL FITRI (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah)  

Posted by Budi Setiawan in


TUNTUNAN IDUL FITRI
(Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah)


A. Tinjauan Umum tentang Idul Fitri
Hari raya Islam disebut ‘Id’ karena pada hari itu Allah swt mempunyai kebaikan dan kemurahan yang kembali berulang-ulang dan dianugerahkan kepada makhluk-Nya setiap tahun yang membawa kegembiraan dan kepuasan. Kata ‘Id’ yang selalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan ‘hari raya’ menurut etimologinya berarti al-mausim = (اَلْمَوْسِمْ)musim, disebut demikian karena setiap tahun berulang.
Dinamakan Idul Fitri karena pada hari itu orang-orang Islam yang menjalankan puasa Ramadlan berbuka dan tidak lagi berpuasa seperti hari-hari sebelumnya selama bulan Ramadlan. Hari Idul Fitri ini dirayakan dengan melakukan shalat Idul Fitri secara berjamaah. Ibadah ini disyariatkan pada tahun pertama Nabi saw. sampai di Madinah.

B. Amal Ibadah dan Adab Menyambut Hari Raya Idul Fitri
1. Memperbanyak Takbir
Dalam rangka menyambut hari Idul Fitri dituntunkan agar orang memperbanyak takbir pada malam Idul Fitri sejak dari terbenamnya matahari hingga pagi hari ketika shalat ‘Id segera dimulai.
Takbir merupakan ekspresi kesadaran terhadap keagungan asma Allah dan kenisbian manusia di hadapan-Nya serta sebagai tanda syukur atas petunjuk yang diberikan-Nya. Selain itu takbir juga merupakan penampakan syiar agama Islam. Takbir dilakukan di masjid-masjid, di rumah-rumah, dan di jalan-jalan baik oleh mereka yang mukim maupun mereka yang musafir. Dalam pelaksanaan takbir (di masyarakat lebih dikenal dengan sebutan takbiran) umat Islam diharapkan tetap dapat menjaga ketertiban umum.
Ucapan takbir itu adalah,
اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.
Allaahu akbar Allaahu akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil-hamd.
Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha besar, Allah Maha besar dan segala puji bagi Allah.

2. Berhias dengan memakai pakaian bagus dan wangi-wangian
Orang yang menghadiri shalat Idul Fitri dituntunkan agar berpenampilan rapi, yaitu dengan berhias, memakai pakaian bagus dan wangi-wangian.
Perlu diperhatikan anjuran memakai pakaian bagus bukan berarti pakaian yang serba mahal dan baru, melainkan yang dipentingkan adalah kerapian dan kebersihannya sehingga bagus dipandang mata. Hari Idul Fitri bukan arena untuk mempertunjukkan perhiasan, kekayaan, dan kemewahan, melainkan hari pernyataan syukur kepada Allah dan pengagungan asma-Nya. Yang penting di sini adalah kekhusyukan hati dan kekhidmatan kalbu dalam meresapi nilai-nilai kemuliaan dan kegembiraan Idul Fitri.

3. Makan sebelum berangkat shalat Idul Fitri
Berbeda dengan Idul Adlha, untuk Idul Fitri orang yang hendak berangkat ke lapangan tempat shalat dituntunkan supaya terlebih dahulu makan pagi. Hal ini sesuai dengan sunnah yang dilakukan Nabi saw..

4. Berangkat dengan berjalan kaki dan pulang melalui jalan lain
Orang yang pergi shalat Idul Fitri, sebaiknya datang ke lapangan dengan berjalan kaki sambil bertakbir dan pulang dari shalat Idul Fitri melewati jalan lain dari yang dilaluinya ketika pergi, sesuai dengan sunnah Nabi saw..

5. Shalat dihadiri oleh semua umat Islam
Idul Fitri adalah suatu peristiwa penting dan hari besar Islam yang penuh berkah dan kegembiraan. Oleh karena itu pelaksanaan shalat dihadiri oleh semua orang Muslim tua, muda, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan, bahkan mereka yang pada saat itu terhalang untuk mengerjakan shalat, yaitu perempuan yang sedang haid, juga diperintahkan oleh Nabi saw. supaya menghadirinya. Hanya saja mereka tidak ikut shalat dan tidak masuk ke dalam shaf shalat, namun ikut mendengarkan pesan-pesan Idul Fitri yang disampaikan oleh khatib.


عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ. [رواه الترذي].

Artinya: Diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ia mengatakan: Rasulullah saw bersabda: Idul Fitri adalah hari ketika orang berbuka puasa dan Idul Adlha adalah hari ketika orang menyembelih kurban. [HR. at-Tirmidzi, dalam Sunan-nya, “Kitab as-Shaum,” hadis no. 802].


عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ اْلأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ. [رواه أبو داود والنسائي].

Artinya: Diriwayatkan dari Anas Ibnu Malik ia berkata: Rasulullah saw. tiba di Madinah (dan beliau melihat) mereka mempunyai dua macam hari yang mereka meriahkan dengan permainan. Beliau bertanya: Hari apa ini? Mereka menjawab: Di zaman Jahiliyah kami memeriahkannya dengan permainan. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari ini untuk kamu dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adlha dan Idul Fitri. [HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i].


1- وَلِتُكْمِلُوا اْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. [البقرة (2): 185].


Artinya: ... dan supaya kamu menyempurnakan bilangannya dan supaya kamu mengagungkan kebesaran Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan kepadamu dan supaya kamu bersyukur. [QS. al-Baqarah (2): 185].

2- عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ إِذاَ غَداَ إِلىَ الْمُصَلَّى يَوْمَ اْلعِيْدِ كَبَّرَ فَرَفَعَ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيْرِ، وَفِيْ رِوَايَةٍ كاَنَ يَغْدُوْ إِلى الْمُصَلَّى يَوْمِ اْلفِطْرِ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى يَوْمَ اْلعَيْدِ ثُمَّ يُكَبِّرُ بِالْمُصَلَّى حَتَّى إِذَا جَلَسَ اْلإِمَامُ تَرَكَ التَّكْبِيْرَ. [رواه الشافعي في مسنده جـ 1 : 153، حديث رقم 444 و 445].

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia apabila pergi ke tanah lapang di pagi hari Id, beliau bertakbir dengan mengeraskan suara takbirnya. Dalam riwayat lain (dikatakan): Beliau apabila pergi ke tempat shalat pada pagi hari Idul Fitri ketika matahari terbit, beliau bertakbir hingga sampai ke tempat shalat pada hari Id, kemudian di tempat shalat itu beliau bertakbir pula, sehingga apabila imam telah duduk, beliau berhenti bertakbir. [HR. asy-Syafi‘i dalam al-Musnad, I:153, hadis no. 444 dan 445].


عَنْ سَلْماَنَ قَالَ: كَبِّرُوْا اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا . وَجَاءَ عَنْ عُمَرَ وَاْبنِ مَسْعُوْدٍ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. [رواه عبد الرزاق بسند صحيح].

Artinya: Dari Salman (dilaporkan bahwa) ia berkata: Bertakbirlah dengan: Allaahu akbar, Allaahu akbar kabiiran. Dan dari Umar dan Ibnu Mas‘ud (dilaporkan): Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil-hamd. [HR. ‘Abdur-Razzaaq, dengan sanad sahih].
Mengenai ucapan takbir dan dalil-dalilnya lihat Keputusan Muktamar Tarjih XX di Garut (1976), ditanfiz oleh PP Muhammadiyah tahun 1977 (No. C/1-0175/77), dimuat dalam Berita Resmi Muhammadiyah, No. 76 (1977), h. 3 dan 8, serta 21, 24 dan 25.


1- عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كاَنَ يَلْبَسُ بُرْدَ حِبَرَةٍ فِيْ كُلِّ عِيْدٍ. [رواه الشافعي في المسند، جـ 1: 152، حديث رقم 441].

Artinya: Dari Ja‘far Ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya (dilaporkan) bahwa Nabi saw selalu memakai wool (burdah) bercorak [buatan Yaman] pada setiap Id. [HR. asy-Syafi‘i dalam kitabnya al-Musnad, I:152, hadis nomor 441].

2- عَنِ اْلحَسَنِ السِّبْطِ قَالَ: أَمَرَناَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِيْ العِيْدَيْنِ أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ ماَ نَجِدُ وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدِ ماَ نَجِدُ وَأَنْ نُضَحِّيَ بِأَسْمَنِ ماَ نَجِدُ (اَلْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ والجزر عن عَشَرَةٍ) وَأَنْ نُظْهِرَ التَّكْبِيْرَ وَالسَّكِيْنَةَ وَاْلوٍقَارَ. [وقال الحاكم بجهالة إسحاق بن برزخ، وليس هو بمجهول، فقد ضعفه الأزدي ووثقه ابن حبان كما في التلخيص].

Artinya: Diriwayatkan dari al-Hasan cucu Rasulullah saw (dilaporkan bahwa) ia mengatakan: Kami diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk pada dua hari raya [Idul Fitri dan Idul Adlha] memakai pakaian kami terbaik yang ada, memakai wangi-wangian terbaik yang ada, dan menyembelih binatang korban tergemuk yang ada (sapi untuk tujuh orang dan unta untuk sepuluh orang) dan supaya kami menampakkan keagungan Allah, ketenangan dan kekhidmatan. [Al-Hakim menyatakan Ishaq Ibnu Barzakh sebagai majhul, padahal sebenarnya tidak majhul. Al-Azdi mendlaifkannya, sementara Ibnu Hibban menyatakannya tsiqah (terpercaya), demikian ditegaskan di dalam at-Talkhish karangan Ibnu Hajar].


1- عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ ... وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا. [رواه البخاري].

Artinya: Diriwayatkan dari Anas Ibnu Malik bahwa ia berkata: Adalah Rasulullah saw tidak pergi ke shalat Idul Fitri sebelum beliau makan beberapa kurma. [HR. al-Bukhari].

2- عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلاَ يَطْعَمُ يَوْمَ اْلأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ. [رواه الترمذي].

Artinya: Diriwayatkan dari ‘Adullah Ibnu Buraidah dari ayahnya [yaitu Buraidah Ibnu al-Husaib] ia berkata: Rasulullah saw pada hari Idul Fitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Idul Adha tidak makan sampai shalat lebih dahulu. [HR. at-Tirmidzi].


1- عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَأَنْ تَأْكُلَ شَيْئًا قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ. [رواه الترمذي و قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ].

Artinya: Diriwayatkan dari ‘Ali Ibnu Abi Thalib ia berkata: Merupakan sunnah bahwa engkau keluar untuk shalat Id dengan berjalan kaki dan makan sesuatu sebelum keluar. [HR. at-Tirmidzi. Ia mengatakan: Ini adalah hadis hasan].

2- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ إِلَى الْعِيدِ رَجَعَ فِي غَيْرِ الطَّرِيقِ الَّذِي أَخَذَ فِيهِ. [رواه ابن ماجه].

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. apabila keluar pergi shalat Id, beliau kembali dengan melalui jalan lain dari yang dilaluinya ketika pergi. [HR. Ibnu Majah].


1- عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا. [رواه الجماعة واللفظ لمسلم].

Artinya: Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyyah bahwa ia berkata: Rasulullah saw memerintahkan kami supaya menyuruh mereka keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adlha: yaitu semua gadis remaja, wanita sedang haid dan wanita pingitan. Adapun wanita-wanita sedang haid supaya tidak memasuki lapangan tempat shalat, tetapi menyaksikan kebaikan hari raya itu dan panggilan kaum Muslimin. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana salah seorang kami yang tidak mempunyai baju jilbab? Rasulullah menjawab: Hendaklah temannya meminjaminya baju kurungnya. [HR. al-Jama‘ah, lafal dari Muslim].

2- عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ اْلأَنْصَارِيَّةِ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الْمُصَلَّى وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَالدَّعْوَةَ مَعَ الْمُسْلِمِينَ. [رواه أحمد].

Artinya: Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyyah al-Anshariyyah bahwa ia berkata: Rasulullah saw memerintahkan kami supaya menyuruh keluar semua gadis remaja, wanita sedang haid dan wanita pingitan. Adapun wanita sedang haid supaya tidak memasuki lapangan tempat shalat, tetapi menyaksikan kebaikan hari raya itu dan dakwah yang disampaikan khatib bersama kaum Muslimin. [HR. Ahmad].

Monggo dilanjut..

Ramadhan yang menggerakkan  

Posted by Budi Setiawan in



Ramadhan yang menggerakkan
Jauh sebelum Ramadhan tiba, berbagai takmir masjid, langgar dan mushalla maupun berbagai ormas Islam serempak mengadakan persiapan menyambut datangnya bulan Ramadhan. Antara lain dengan membentuk Panitia Gerakan Ramadhan, memang hal itu sangat penting mengingat perlu ada sekelompok orang yang menyeru dan menggerakkan masyarakat menyambut bulan suci Ramadhan


“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
Ayat tersebut telah mampu menggerakkan sekelompok ummat untuk mengadakan berbagai kegiatan mengisi bulan yang suci tersebut. Maka ketika bulan suci Ramadhan tiba, ummat secara leluasa dapat menjalankan ibadah Ramadhan, lengkap ibadah tathawu’ nya seperti jama’ah tarawih, tadarus, berbagai pengajian dan kajian.
Mesjid, langgar dan mushalla berubah drastis, setiap jama’ah shalat tiba, semua menjadi lebih penuh danm semarak terutama jamaah tarawih dan shubuh. Berbagai ceramah digelar, berbagai ilmu dicurahkan. Tidak hanya di masjid, berbagai media elektronik dan cetak membuat siaran khusus. Setiap santap sahur dan buka puasa, ummat akan ditemani dengan berbagai siaran khusus selama bulan Ramadhan.
Iman dan taqwa ummat Islam seakan terksitasi, meningkat dengan luar biasa. Kekhusukan, ketawadhu’an dalam beribadah akan nampak nyata. Tempat-tempat hiburan membatasi diri, bahkan sebagian menutup kegiatannya.
Sayangnya Ramadhan berlangsung “hanya sebulan”, selalu menjadi pertanyaan sejauh manakh ummat Islam mampu menyerap “energi” Ramadhan dan menyimpannya, sehingga ketika bulan Ramadhan berlalu suasana kekhusu’an dan ketawadhu’an ummat Islam akan senantiasa terjaga. Pendidikan dan pelatihan yang didapat selama bulan Ramadhan akan mampu merubah prilaku ummat Islam menuju akhlaqul karimah yang senantiasa dalam bimbingan Ilahi.
Tiada salah kita semua berharap Ramadhan 1430 H ini akan mampu memperkaya iman dan taqwa kita bersama, sehingga Ramadhan tahun ini adalah betul-betul meruapakan Ramadhan yang menggerakkan… Insya Allah.
Selamat Berpuasa
Selamatkan Puasamu
Siapa tahu Ramadhan ini terakhir buatmu

Monggo dilanjut..