Label

Rabu, 09 November 2011

“Islam, Ajaran Qurban dan Pemberantasan Korupsi”


“Islam, Ajaran Qurban dan Pemberantasan Korupsi”
M. Busyro Muqoddas 
( KetuaKPK / Pengajar Fakultas Hukum UII) 


Khutbah Idul Adha 1432 H
di Alun-alun Utara Yogyakara


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله  نحمده  ونستعينه  ونستغفره  ونعوذ  بالله  من  شرور  أنفسنا  ومن  سيئات  أعمالنا, من  يهد الله  فلا  مضل له  ومن يضلل فلا  هادى  له. أشهد أن لا إله  إلا الله وحده لا شريك له  وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله  أرسله  بالهقّ  بشير ا  ونذيرا. أللهمّ صلّ  وسلّم  وبارك  على  محمّد  وعلى  آله  وأصحابه  ومن  تبعهم  بإحسان  إلى يوم القيامة, 
أما بعد, أوصيكم عباد الله  ونفسى  بتقوى الله  فقد  فاز المتّقون. قال الله تعالى

. !$¯RÎ) š»oYø‹sÜôãr& trOöqs3ø9$# ÇÊÈ   Èe@|Ásù y7În/tÏ9 öptùU$#ur ÇËÈ   žcÎ) št¥ÏR$x© uqèd çŽtIö/F{$# ÇÌÈ
  
1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus


الله أكبر  الله أكبر لا إله إلاّ الله والله أكبر  الله أكبر ولله الحمد.

Saudaraku Kaum Muslimin yang dirahmati Allah
   Marilah kita senantiasa mengulang-ulang puja dan puji syukur kita kehadirat Allah swt  atas sejumlah besar nikmatNya yang selalu dianugerahkan kepada kita selama ini. Di antara kenikmatan itu adalah kita beriman dan beragama di jalan yang benar, jalan yang diridhoiNya, yaitu Islam. Kita masih diberi nikmat kesehatan, kemampuan menegakkan sholat, bersilaturahmi, mendatangi pengajian-pengajian, menolong sesama, peduli terhadap persoalan kemanusiaan dan kebangsaan dst.

Selasa, 09 Agustus 2011

Penyebaran Kisah dan Fadhilah yang tidak jelas sumbernya


Adalah sangat menggembirakan, dalam kemajuan komunikasi sekarang ini, baik melalui internet, BBM, jejaring sosial ataupun peralatan lainnya, maka semangat
وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر
saling menasihati dengan kebenaran dan menasihati dengan kesabaran, menjadi sangat marak. hal tersebut sangat perlu disyukuri. Demikian pula menjadi sangat mudah (dalam batasan tertentu) bagi kita untuk mencari referensi ataupun ruju'an pelajaran agama.
Berbagai kisah teladan Rasulullah SAW dan para sahabat, menjadi hal yang sering disebarkan antar teman, maka cerita yang sebelumnya tidak pernah didengar, akan menjadi mudah tersampaikan kepada kita.
Tetapi sayangnya kemudian, banyak kisah, cerita "israiliyat" atau kisah yang tidak jelas sumbernya, meskipun menyebut sebagai kisah nabi dan para sahabat banyak banyak beredar. Inilah yang nampaknya perlu pencermatan dari kita, meski tidak jarang orang berkomentar "ini kisah baik jadi tidak mengapa kita sebarkan" kadang muncul. Perlulah diingat bahwa mencatut "nama Rasulullah Muhammad SAW" jelas tidak diperkenankan.
Demikian pula ada tulisan tentang "Fadhilah" ayat tertentu ataupun "Fadhilah Lelaki", "Fadhilah Perempuan" yang tidak jelas sumbernya, banyak sekali beredar.
Serta yang lebih "parah" lagi kadang-kadang ada iseng "memplesetkan" kisah tertentu, ketika ditanya dengan lantang dan "cengengesan" dia menjawab "ini hadits riwayat saya". Ada pula dalam status di FB dia menulis sebuah pernyataan, kemudian di akhirnya dia menulis HR. Fulan dengan menyebut namanya.
Oleh karena itu perlulah kita saling mengingatkan agar tidak terjadi "pemalsuan" kisah ataupun "penyisipan" yang tidak benar.
Wallahu a'lamu bishshowwab....

Senin, 01 Agustus 2011

PENGARUH PENGEMBAN SULINGAN TERHADAP INTENSITAS Gd DAN Dy PADA ANALISIS PENGOTOR U3O8

PENGARUH PENGEMBAN SULINGAN TERHADAP INTENSITAS
Gd DAN Dy PADA ANALISIS PENGOTOR U3O8

Aryadi, Farida Ernawati
PTAPB-BATAN, Yogyakarta

ABSTRAK
PENGARUH PENGEMBAN SULINGAN TERHADAP INTENSITAS Gd dan Dy. PADA ANALISIS PENGOTOR U3O8. Penentuan unsur logam tanah jarang Gd danDy dengan spektrografi emisi diperlukan metode khusus. Penambahan pengemban sulingan (AgCl, LiF dan Ga2O3 = 95 : 4 : 1) ke dalam standar dan sampel  U3O8 bertujuan untuk membantu penguapan unsur teranalisis sehingga mempercepat pembentukan spektrum unsur pada saat proses eksitasi berlangsung. Dengan memvariasi prosentase pengemban sulingan didapatkan spektrum unsur yang optimum. Penambahan pengemban sulingan dengan komposisi di atas sebanyak 6 % menghasilkan intensitas spektrum unsur Gd dan Dy terbaik sehingga dapat dijadikan sebagai dasar untuk analisis Gd dan Dy di dalam U3O8. Dari analisis yang telah dilakukan dengan penambahan pengemban sulingan sebanyak 6 % menggunakan metode spektrografi emisi dapat diketahui bahwa kandungan Gd dan Dy di dalam U3O8 masing-masing adalah 23,361 ppm dan 23,361 ppm.
makalah selengkapnya.....

Kamis, 07 Juli 2011

TUNTUNAN IBADAH PADA BULAN RAMADHAN

TUNTUNAN IBADAH PADA BULAN RAMADHAN

Disusun Oleh:
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah

A.    Persiapan
1.                 Dituntunkan agar setiap Muslim dan Muslimah mempersiapkan diri pribadi baik secara lahir maupun batin, dan memperbanyak melakukan puasa sunat di bulan Sya‘ban, berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ ... مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ. [متفق عليه].
Artinya: “Dari ‘Aisyah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: ... Saya tidak pernah melihat Rasulullah saw berpuasa sebulan penuh selain bulan Ramadhan. Juga saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya‘ban. [Muttafaq ‘Alaih].
2.             Melakukan pengkondisian Ramadhan pada bulan Sya‘ban di lingkungan masyarakat, rumah dan masjid-masjid dengan memperbanyak informasi dan kajian tentang Tuntunan Ibadah Ramadhan.
3.             Mempersiapkan sarana dan prasarana kegiatan di bulan Ramadhan, seperti sound system yang memadai, mempersiapkan dan membersihkan tempat wudhu, air wudhu, kotak-kotak infaq, peralatan ta‘jil, dan lain-lain.
4.             Kebersihan, baik di dalam masjid maupun di lingkungan sekitarnya.
5.              Pengaturan shaf dan keamanan
6.             Jadwal mu'adzin, imam, penceramah dan penjemputannya.
7.              Mempersiapkan tempat shalat ‘Idul Fitri, Imam/Khatib dan penjemputannya.
8.              Membentuk ‘Amil Zakat, untuk memungut dan membagikannya serta mempersiapkan peralatannya.

B.     Tuntunan Shiyam
1.                 Pengertian Shiyam (Puasa)
a.               Shiyam menurut bahasa: menahan diri dari sesuatu.
b.              Shiyam menurut istilah: menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual suami isteri dan segala yang membatalkan sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat karena Allah.
Dasar keharusan niat berpuasa karena Allah:
1)               Firman Allah SWT:
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ ... [البينة (98): 5].
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus …” [QS. Al-Bayyinah (98): 5].
2)           Hadits Nabi Muhammad saw:
عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اَ ْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى... [أخرجه البخاري، كتاب الإيمان].
Artinya: “Dari Umar r.a. (diriwayatkan) bahwa Rasulullah saw bersabda: Semua perbuatan ibadah harus dengan niat, dan setiap orang tergantung kepada niatnya …” [Ditakhrijkan oleh Al-Bukhariy, Kitab al-Iman].
3)           Hadits Nabi Muhammad saw:
عَنْ حَفْصَة أُمِّ اْلمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ. [رواه الخمسة، الصنعاني، 2، 153].
Artinya: “Dari Hafshah Ummul Mu'minin r.a. (diriwayatkan bahwa) Nabi saw bersabda: Barangsiapa tidak berniat puasa di malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” [Ditakhrijkan oleh Al-Khamsah, lihat Ash-Shan‘aniy, II, 153].
2.             Jumlah Hari Shiyam (Puasa)
a.               Shiyam dimulai pada tanggal 1 bulan Ramadhan dan diakhiri pada tanggal terakhir bulan Ramadhan (29 hari atau 30 hari, tergantung pada kondisi bulan tersebut). Untuk itu, maka harus mengetahui awal bulan Ramadhan.

Kamis, 26 Mei 2011

Misteri 10 Perilaku Aneh Manusia Sehari-hari


INILAH.COM, Jakarta - Pernahkah Anda menyadari, jika memandang jari untuk waktu lama, akan berubah seperti jari alien? Hal yang biasa Anda lihat berubah menjadi hal yang terlihat sangat aneh.
Hal serupa juga berlaku untuk perilaku. Misalnya, saat ada hal lucu, manusia tertawa terbahak-bahak. Selaini tu sepertiga hari manusia dihabiskan dalam kondisi seperti mati atau dikenal dengan tidur. Renungkan perilaku-perilaku ini, Anda akan mendapatinya sangat aneh. Berikut 10 hal biasa yang aneh yang selalu dilakukan manusia beserta alasan manusia melakukannya.
Menangis
Kesedihan bisa membuat air mata jatuh. Di antara semua makhluk, hanya manusia yang bisa menangis karena emosi. Tak hanya berguna mengkomunikasikan perasaan, ilmuwan yakin ada hormon tak diinginkan dalam air mata dan protein lain yang dihasilkan selama massa stres. Hal semacam ini disebut efek ‘tangis kebaikan’.
Cegukan
Cegukan merupakan kejang paksa diafragma (membran otot dada untuk bernapas). Kejang ini membuat otot iritasi akibat banyaknya atau sedikitnya makanan dalam perut. Anehnya, cegukan tak memiliki tujuan. Satu hipotesa menyatakan, cegukan merupakan sisa refleks menghisap primitive.
Tidur
Manusia menghabiskan sepertiga waktunya untuk tidur. Tak seorang pun bisa melewati hari tanpa tidur. Perilaku inilah satu-satunya yang bisa dipahami. Tidur memungkinkan ‘pemeliharaan’ dari produksi kimia selama bangun untuk perkembangan otak. Beberapa teori menunjukkan, tidur penting untuk ingatan dan pembelajaran. Tidur juga membantu memasukkan ingatan episodik ke dalam ‘media penyimpanan’ jangka panjang.
Kematian
Secara teknis, kematian bukan aktivitas sehari-hari. Namun, kematian terjadi pada banyak orang sekaligus tiap harinya. Mengapa? Manusia mati karena sel mati. Meski sel terus diperbarui selama 70 tahun, sel tak bisa memperbarui diri selamanya. Dalam sel terdapat telomeres untuk menyimpan informasi genetis. Namun, lama kelamaan, telomeres tak mampu menyimpan informasi dan sel tak bisa membagi diri lagi.
Melihat dalam 3D
Bagaimana mata manusia bisa menghasilkan visi 3D? Hal ini sebenarnya trik pikiran. Otak manusia memanfaatkan ‘teropong disparitas’ guna melihat gambar berbeda dari mata kiri dan kanan. Selain itu , menggunakan gambar itu, otak manusia merekonstruksi kedalaman.
Untuk obyek dekat, otak mendaftar ‘konvergensi’ mata manusia guna menentukan seberapa jauh jarak. Saat memandang sesuatu yang bergerak, secara tak sadar jarak itu menimbulkan ‘parallax’ yang pada kecepatan berbeda, obyek akan terlihat mendekat atau menjauh.
Tersipu
Tersipu membuat pipi memerah. Reaksi ini umum pada manusia saat mendapat perhatian sosial. Tersipu bisa dipicu bertemu orang penting, menerima pujian dan mengalami emosi kuat di situasi sosial. Biologi tersipu bekerja dengan meluaskan area pembuluh darah muka untuk menimbulkan efek memerah. Namun, hingga kini, ilmuwan tak memahami apa fungsi tersipu.
Ciuman
Insting biologis ini memang tampak aneh. Ciuman memungkinkan orang menggunakan bau dan rasa guna menilai pasangannya. Nafas dan air ludah seseorang menyimpan sinyal kimia penanda sehat atau sakit. Lebih lanjut, kulit di hidung dan mulut diselimuti minyak berisi feromon, kimia riasan biologis manusia.
Saat mendapat feromon selama ciuman, secara tak sadar, orang menjadi makin tertarik atau tidak tertarik untuk melakukan seks. Psikolog yakin, aksi fisik ciuman membantu pasangan ‘saling berkenalan’.
Kentut
Tiap makan dan minum, gas masuk ke tubuh. Faktanya, suatu hal normal kentut 1,9 liter atau sekitar 15-20 ‘tut’ tiap hari. Aroma khusus kentut berasal dari bakteri perut. Saat memroses makanan menjadi nutrisi di perut, mikroba menghasilkan produk bau hidrogen sulfida (gas serupa telur busuk). Seperti manusia, bakteri ini sangat menyukai makanan manis. Jenis gula alami pada susu dan buah menjadi penyumbang ‘tut’ terbanyak.
Tertawa
Saat ada hal lucu, dorongan tawa selalu muncul. Tawa memang aneh. Mengapa manusia tertawa? Psikolog yakin perilaku ini merupakan respon untuk memberi sinyal pada orang lain melalui penyebaran emosi positif, mengurangi stres dan kontribusi kohesi. Hal serupa juga terjadi pada primata, simpanse dan orang utan juga tertawa saat bermain.

Berkedip
Berkedip bukanlah hal aneh. Aktivitas sepersepuluh detik ini untuk menghilangkan partikel debu dan menyebarkan cairan pelumas ke bola mata. Hal anehnya adalah, manusia selalu tak bisa ‘melihat’ kegelapan dalam aktivtas 2-10 detik itu. Ilmuwan menemukan, otak manusia memiliki bakat mengabaikan gelap sementara. Berkedip menekan aktivitas beberapa area otak yang bertanggungjawab mendeteksi perubahan lingkungan. Alhasil, manusia bisa merasakan dunia secara kesinambungan. [mdr]
http://id.berita.yahoo.com/misteri-10-perilaku-aneh-manusia-sehari-hari-025600526.html

Sabtu, 19 Februari 2011

ABC (Ada Banyak Cara) Bimbo

Ada Banyak cara...untuk jadi wakil Rakyat
Salah satunya kurang poeka poerasaan
ABC untuk jadi wakil rakyat
Salah satunya sering naikkan gaji sendiri
ABC untuk disebut politisi
Salah satunya duduk sidang terus mimpi
ABC untuk pamer kekuasaan
Salah satunya usir KPK dari Senayan
ABC untuk menjadi mafia
Salah satunya memakai wig dan kaca mata
ABC jaksa nhakim wiraswasta
Salah satunya menguras kantong terdakwa
ABC jadi pengacara terpuji
Salah satunya menyeriungai tariufnya tinggi
ABC menyelamatkan Indonesia
Salah satunya sembuhkan elit yang sakit jiwa
ABC politisi jadi teladan
Akal-akalan jadi kehilangan akal
Akal-akalan jadi kehilangan akal

Selasa, 21 Desember 2010

Jebolnya Tanggul Babat Barriage

Jebolnya Tanggul Babat Barriage

Hari Ahad, 19 Desember tepat pukul 09.15… terdengar bunyi kenthongan “thung..thung..thung…” bernada titir…teriakan orang…”banjir …banjir…. tolong..tolong……..”
Nampak banyak orang kebingungan….tetapi nampak semua orang menuju satu titik Lapangan Pangkatrejo. Bunyi sirine ambulan mengaung..membawa sejumlah korban…nampak para relawan sigap menurunkan para korban yang luka maupun yang meninggal

Polisi dan TNI bahu-membahu menolong korban
Ibu-ibu membawa anak dan bekal seadanya berduyun-duyun...
Relawan membawa peralatan sederhana mengangkat para korban, untuk ditempatkan ke pusat evakuasi, karena Lapangan Pangkatrejo, mulai tergenang banjir
Pada saat bersamaan muncukl berita tentang adanya orang yang terjebak dan hanyut di Bengawan Solo, maka segera meluncur ambulan membawa prahu karet, untuk menolong korban yang terseret arus Bengawan Solo dan segera semua korban dievakuasi di tenda darurat yang telah didirikan di atas tanggul.
Korban hanyut di Bengawan Solo
Relawan dari DMC RS Muh Lamongan meluncur dengan perahu karet
Segera korban ditolong.....
 Tenda darurat didirikan di tempat evakuasi tanggul yang lebih tinggi


 Pendataan korban dilakukan dengan cermat











 Korban yang meninggal disendirikan





Miss Anita dar Kedubes Australia, memberikan evaluasi usai Simulasi Banjir bandang









Ketua LPB, PP Muhammadiyah menyampaika sambutan sekaligus menutup acara Simulasi

Jumat, 03 Desember 2010


Khotbah Jum'at, 03 Desember 2010 di Masjid Gedhe Kauman



“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al Hasyr : 18)
Takwa selalu menjadi kata kunci dalam kehidupan seorang manusia muslim, sehingga menjadi keniscayaan dalam setiap khutbah harus diucapkan dan harus menjadi pengingatan bagi kita semua, sebagaimana Allah SWT mengingatkan :
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat : 13)
Manusia, siapapun dia, adalah berawal dari seorang laki-laki, bapak Adam dan seorang perempuan ibu Hawa.  Jadi nilai keutamaan manusia bukan terletak pada keturunan siapa, suku maupun bangsa tetapi terletak pada “nilai takwa” nya. Inilah mesti menjadi catatan dengan huruf tebal bagi setiap manusia muslim.
Jamaah jum’ah yang senantiasa berupaya meningkatkan nilai takwa ke hadapan Allah SWT
Jum’ah hari ini merupakan Jum’ah terakhir di tahun 1431 H, hari ini kita berada pada tanggal 27 Dzulhijjah 1431 H, dan insya Allah pada hari Selasa 7 Desember nanti kita akan memasuki 1 Muharram 1432 H.  Untuk itu saat ini menjadi saat yang tepat untuk berkontemplasi bermuhasabah merenungi seluruh perjalanan hidup yang telah kita lalui dan mengevaluasi dengan kritis  serta merancang langkah kita ke depan dengan cermat.  Tolok ukur dari evaluasi maupun langkah ke depan tidak lain adalah TAKWA, sebagaimana firman Allah :


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah.
Dan janganlah sampai kita tidak jujur dengan evaluasi dan rancangan langkah kita ke depan karena :

“sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Jamaah Jum’ah yang berbahagia rahimakumullah
Momentum pergantian tahun hendaknya tidak kita lewatkan begitu saja, meski tidak perlu ada satu ritual khusus berkaitan pergantian tahun.  Tetapi tidak ada salahnya kita pada penghujung tahun 1431 H ini mengingat kembali pesan dari seorang ilmuwan dan ulama Islam dari Iran, Ali Syaria’ti, tentang “Empat  Belenggu Manusia”

1.      
      1. Belenggu Alam
Alam dengan segala fenomena yang terjadi sering membelenggu atau menjadi kendala aktivitas manusia, paling sederhana hujan yang turun kadang menjadi halangan manusia untuk melakukan aktivitas. Pada skala besar seperti yang baru saja terjadi Letusan Gunung Merapi ataupun tsunami dan gempa bumi, jelas telah menghambat dinamika aktivitas manusia.  Indionesia yang sering disebut dengan “untaian jamrud di katulistiwa” melambangkan kesuburan Indonesia, tetapi harus juga diingat Indonesia merupakan negara yang terletak di atas Kawasan Cincin Api dan pertemuan tiga lempeng benua, sehingga mempunyai potensi bencana yang tidak kecil.  Tetapi Allah SWT yang telah menjadikan manusia  sebagai khalifah di muka bumi telah membekali manusia dengan AKAL dan Ilmu Pengetahuan, sehingga mestinya manusia sebagai makhluk termulia akan selalu mampu beradaptasi dengan fenomena alam bahkan bencana alam, dan tidak bertekuk lutut terhadap fenomena alam.  Kita bisa mencontoh negara lain, yang hidup di daerah gempa, maka harus bisa membangun rumah tahan gempa, menyediakan peralatan yang mampu mendeteksi dini adanya tsunami.  Serta mensosialisasikan kepada masyarakat tentang mitigasi bencana atau pengurangan resiko bencana.  Sehingga manusia tidak harus terbelenggu oleh Alam dan lingkungan
Jamaah Jum’ah yang senantiasa rindu kemajuan dalam hidayah dan ridla Allah
2.       2. Belenggu Tradisi
Tradisi yang sudah mengakar dalam kehidupan manusia memang harus diakui telah membawa kemajuan bagi peradaban manusia.  Tradisi yang luhur layak dan harus dihormati, tetapi harus diingat bahwa tradisi sering terikat oleh ruang dan waktu, sehingga kita harus kritis terhadap tradisi demi kemajuan peradaban manusia. Janganlah sampai kita terbelenggu oleh tradisi, sebagaimana ummat Nabi Hud as, yang termaktub pada ayat :



Mereka menjawab: "Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat,
(agama kami) ini tidak lain hanyalah adat tradisi orang dahulu,
dan kami sekali-kali tidak akan di "adzab". (Asy Syu’ara : 136-138)

Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.” (Asy Syu’ara : 139)
Tradisi  yang dipertahankan oleh ummat Nabi Hud as, mestinya mengilhami kita untuk senantiasa kritis terhadap tradisi yang menghambat kemajuan serta bertentangan dengan nilai agama yang mengajarkan kebenaran haqiqi.
Demikian pula ayat dalam surat Al Maidah

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (Al Maidah : 104)
Ayat tersebut memberi isyarat dengan jelas bahwa “nenek moyang” tidak mengetahui apa-apa atau dalam bahasa lain “belum mempunyai ilmu pengetahuan yang maju”
Dengan demikian jangan sampai kita terjebak pada tradisi yang bisa saja menghambat kemajuan.
Jamaah Jum’ah yang senantiasa menginginkan kebenaran dan bukan hanya kebiasaan
3.    
3.    3. Belenggu Kebiasaan/Mode
Pada masa sekarang ini di era informasi dan komunikasi masyarakat akan mudah mengakses berbagai media yang kemudian bisa saja membentuk opini massa. Sehingga memunculkan sikap seseorang merasa tidak “sreg” kalo berbeda dengan “opini massa”.  Padahal bisa saja opini massa, atau pendapat umum tersebut bukanlah hal yang mempunyai kebenaran. Oleh karena itu perlu dimunculkan sikap keberanian yang “berani melawan arus”, sebagaimana telah ditunjukkan para pendahulu kita seperti KHA Dahlan, Ki Hajar Dewantoro dan tokoh-tokoh lain yang “tidak anut grubyug” begitu saja. Yang tentu saja mempunyai argument yang memadai dalam sikap keberanian tersebut
Jamaah jum’ah yang senantiasa berupaya tazkiyatunnafs
Ketiga belenggu di atas, secara nyata sesungguhnya bukan hal yang tidak bisa diatasi, tetapi dengan kesungguhan dan petunjuk Allah, manusia akan mampu mengatasi atau membebaskan diri dari ketiga belenggu tersebut.  Sehingga kalau manusia menyatakan dirinya tidak mampu mengatasi ketiga belenggu tersebut, bisa saja manusia tersebut sesungguhnya terjebak pada belenggu ke empat

4.    4. Belenggu Nafsu
Belenggu ini merupakan belenggu yang paling kuat, dan karena bersembunyi dalam diri manusia.  Tidak sedikit manusia yang terbelenggu oleh belenggu nafsu, dan lebih menakutkan karena tidak sedikit manusia yang tidak menyadari bahwa dirinya terbelenggu oleh nafsu, sebagai mana firman Allah SWT :
      
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? “(Al Jatsiyah :23)
Oleh karena itu menjadi perlu bagi kita untuk bermuhasabah pada diri masing-masing, agar kita bisa terlepas dari belenggu nafsu, dan kita menemukan kebenaran sejati. Dan kita mampu mengendalikan nafsu yang ada pada diri kita, sehingga kita akan menjadi “sebaik-baik kejadian”

Demikianlah pada momentum perpindahan tahun hijriyah ini, hendaknya kita mampu melakukan hijrah untuk meningkatkan kualitas diri.

Jumat, 26 November 2010

PERNYATAAN SIKAP  WARGA MUHAMMADIYAH / KAMPUNG KAUMAN YOGYAKARTA 
TERHADAP PENYELENGGARA FFI.

Film “Sang Pencerah” jelas sangat punya arti khusus bagi kami warga muhammadiyah atau warga Kampung Kauman Yogyakarta.Suatu penghargaan yang sangat besar untuk kami ketika kisah Kiai Ahmad Dahlan yang seorang pahlawan nasional sekaligus pendiri organisasi Muhammadiyah di tuangkan dalam sebuah film.Hampir 2 juta penonton yang telah mengapresiasi film ini termasuk beberapa menteri dan pejabat negara, bapak wakil presiden Boediono pun tak ketinggalan memberikan penilaian dua jempol untuk film ini.
Kepentingan kami terhadap film “sang pencerah” sangatlah sederhana,kami hanya ingin menggunakan film ini sebagai media da’wah kami menyampaikan atau meneruskan ajaran-ajaran Kiai Ahmad Dahlan tentang toleransi beragama,bersikap adil dan saling mengasihi antar sesama.
Oleh karena itu, tidak bisa di pungkiri bahwa kami sesungguhnya menginginkan film yang bercerita tentang sejarah pendahulu kami, film yang bercerita tentang sejarah berdirinya organisasi kami ini di apresiasi lebih oleh sebuah lembaga festival film, entah festival film di luar negeri atau di dalam negeri sendiri.Karena kami menganggap di situlah salah satu tempat kami untuk melakukan da’wah tentang ajaran-ajaran Kiai Ahmad Dahlan.
Sayangnya niat kami itu di hambat oleh sikap dan pernyataan dari panitia Festival Film Indonesia (FFI) sendiri.dalam suatu kesempatan ibu Viva Westi selaku ketua komite seleksi FFI menyatakan bahwa film “sang pencerah” salah dalam menggunakan landasan history dan banyak data sejarah yang salah. Sejarah Kiai Ahmad Dahlan dan sejarah Muhammadiyah memang milik bangsa, tetapi jangan melupakan kami sebagai pihak yang mempunyai keterikatan langsung di dalam sejarah tersebut.Sejarah Kiai Dahlan yang mana yang di anggap salah? sejarah tentang Muhammadiyah yang mana yang di anggap salah?
Seandainya memang ada kesalahan data atau cerita sejarah yang salah menyangkut pendahulu kami, apakah kami akan merasa di rugikan?
Kami selaku pihak yang mempunyai keterikatan langsung terhadap sejarah Kiai Ahmad Dahlan dan Organisasi Muhammadiyah tidak pernah di konfirmasi oleh pihak FFI atau Komite Sejarah sehubungan dengan pernyataan dan penilaiannya tentang kesalahan data sejarah di dalam film “Sang Pencerah”.
Dalam permasalahan ini Kami menganggap pihak FFI atau Komite Seleksi FFI telah menghambat niat Da’wah dan siar kami menyampaikan ajaran-ajaran Kiai Ahmad Dahlan. dan sedikit melukai hati kami
Oleh karena itu kami menyatakan kecewa terhadap apa yang di lakukan oleh pihak FFI dan Komite Seleksi FFI
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan petunjuk Nya kepada kita semua...Amiin

Senin, 22 November 2010

Khutbah Idul Adha

Khutbah Idul Adha
10 Dzulhijjah 1431 H/ 16 November 2010 M

KONTEKSTUALISASI PENGORBANAN DAN PERJUANGAN IBRAHIM: “MENUMBUHKAN BUDAYA KEDERMAWANAN, TOLONG MENOLONG, DAN KERJA KERAS DI TENGAH BENCANA ALAM DI INDONESIA”
Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M. Ec
Rektor Universitas Islam Indonesia


Jama’ah shalat Idul Adha yang berbahagia,
Alhamdulillahirabbil‘alamin, suatu kata yang layak kita ucapkan pagi ini, karena demikian banyak limpahan rahmat dan karunia-Nya yang kita terima dari-Nya, termasuk pagi hari ini kita masih diberi-Nya kesempatan untuk melaksanakan shalat Idul Adha, berjama’ah di tempat yang lapang ini, tanpa ada halangan suatu apapun. Rutinitas nikmat yang kita terima terkadang membuat kita lupa untuk mensyukuri nikmat yang sungguh agung, yaitu berupa nikmat kehidupan, nikmat kesempatan yang memungkinkan kita untuk menikmati atau melakukan sesuatu yang kita inginkan. Oleh karena itu, sungguh naif apabila kita mengingkari nikmat yang telah Allah berikan kepada kita sebagai hamba-Nya, sebagaimana diingatkan Allah secara berulang di dalam surat Ar-Rahman (55:13):
Artinya: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Kenikmatan kita bisa melaksanakan shalat Idul Adha pagi ini, tidak belum tentu dinikmati juga oleh saudara kita yang lain yang sebenarnya juga ingin melakukannya. Bencana banjir Wasior, Tsunami Mentawai, dan Ketusan Merapa di Jogja-Jawa tengah, bisa jadi membuat saudara-saudara kita yang ingin melaksanakan shalat Idul Adha sebagaimana yang kita laksanakan pagi hari ini, namun karena berbagai situasi dan kondisi, mereka tidak dapat melaksanakannya. Atau seandainya bisa melaksanakan pun tentunya suasananya tidak senyaman yang kita dirasakan di tempat ini. Pada kesempatan ini, marilah kita juga mendo’akan agar saudara-saudara kita yang sedang ditimpa musibah bencana alam dapat diberikan kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapinya, dan segera bisa bangkit kembali dari tragedi alam dan kemanusiaan yang menimpanya. amiin         
Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan ke haribaan nabi besar Muhammad SAW, yang dengan segenap pengorbanannya telah menyampaikan risalah Islam kepada umatnya. Semoga kita termasuk dari golongan umatnya yang senantiasa dapat melaksanakan sunnah-sunnahnya hingga akhir zaman nanti.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,
Prosesi dan perayaan Idul Adha hari ini dan ibadah haji yang dilaksanakan saudara-saudara kita di tanah suci, tidak bisa dilepaskan dari napak tilas pengorbanan Nabi Ibrahim As bersama istri (Siti Hajar) dan anaknya (Ismail As). Pada momen ini, kita sedikit mengingat kembali peristiwa tersebut seraya mengambil hikmah di baliknya. Bermula dari usia perkawinan Nabi Ibrahim As dengan Siti Sarah yang sudah cukup lama, namun belum kunjung dikarunia seorang anak pun. Sebagai insan manusia, tentu beliau sangat berharap untuk segera dikarunia anak yang dapat menjadi generasi penerusnya. Beliau secara khusu’ terus menerus memanjatkan do’a:

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh (QS. as-Shafat: 100)
Atas ijin Siti Sarah, kemudian beliau memperistri Siti Hajar dan akhirnya dikaruniai seorang anak bernama Ismail. Di saat Isma’il masih menyusu, Nabi Ibrahim As diperintahkan oleh Allah SWT untuk membawa Siti Hajar dan Isma’il ke suatu lembah gersang yang sunyi dan tidak ada penduduk seorang pun, dan ini diterimanya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Di tempat tersebut, yang kemudian menjadi Kota Mekkah Al-Mukaramah, Siti Hajar mengalami krisis air, sehingga tidak lagi bisa menyusui. Kemudian Siti Hajar mencari air sambil berlari-lari kecil (sa’i) di antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak tujuh kali, sampai ditemukannya pancaran air dari tanah yang diinjak-injak Ismail. Air inilah yang kemudian dinamakan Air Zam-Zam yang sampai sekarang tidak pernah kering meski telah dikonsumsi oleh jutaan jamaah haji yang datang setiap tahunnya.
Ketika Isma’il baru berumur tujuh tahun, cobaan Allah kembali datang. Nabi Ibrahim As melalui mimpinya diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih Isma’il As dengan tangannya sendiri. Ujian ini tentunya sangat berat, namun Nabi Ibrahim As dan Isma’il As tetap sabar dan ikhlas dalam menghadapinya. Bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim As melaksanakan perintah tersebut. Ketika beliau sudah menempelkan pisaunya di leher Ismail As, sebagai imbalan dari kesabaran dan keikhlasannya, Allah SWT menggantinya dengan seekor kambing sebagai korban.
Rangkaian cobaan yang diterima Nabi Ibrahim As beserta sang putra, Nabi Ismail As, dan Siti Hajar ini yang kemudian diabadikan dalam ritual ibadah di bulan Dzulhijjah ini, baik dalam rangkaian ibadah haji, maupun ibadah qurban.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,
Begitu bermaknanya peristiwa tersebut sehingga tanggal 10 Dzulhijjah diabadikan sebagai hari raya umat Islam, yaitu Idul Adha atau sering juga disebut sebagai Idul Qurban. Sangat banyak hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa itu, kita tarik dalam konteks kekinian dalam kehidupan umat dan bangsa ini. Ini jauh lebih penting dari sekedar kegiatan kegiatan seremonial saja, namun lebih dari itu yang terpenting adalah mengambil pelajaran (hikmah) berharga dari peristiwa tersebut sebagaimana firman Allah SWT:
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (QS. as-Shaffat: 108).
Salah satu pelajaran yang dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim As tersebut adalah sifat rela berkorban, ikhlas menerima cobaan, selalu  melaksanakan perintah Allah, dan nilai-nilai kerja keras untuk bertahan. Alangkah damai dan sejahteranya  dunia ini kalau kalau sifat dan nilai itu menjadi keseharian kita semua.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,
Dalam konteks sekarang, ruh dan semangat itu sangat relevan, bagaimana kita dengan kemampuan masing-masing yang kita miliki untuk rela berkorban membantu sesama yang mungkin membutuhkan uluran tangan kita. Atasan membantu bawahan, yang kuat membantu yang lemah, yang besar membantu yang kecil, yang kaya membantu yang miskin, pemimpin membantu rakyatnya, dan yang senang membantu yang susah atau yang terkena musibah.  
Sebagian Saudara kita saat ini sedang dilanda bencana alam secara bertubi-tubi. Setelah banjir bandang Wasior Papua Barat yang menewaskan ratusan nyawa, di Mentawai Sumatera Barat juga ditimpa musibah tsunami yang menewaskan lebih banyak nyawa lagi. Terakhir, gunung Merapi yang merupakan salah satu gunung teraktif di dunia kembali menunjukkan aktivitasnya dan lebih dua ratus nyawa saudara kita, sahabat kita, tetangga kita, terenggut di DIY dan Jawa Tengah. Bencana ini menyisakan kepiluan, kesedihan, dan juga kesulitan hidup. Mereka bukan saja mengalami trauma psikologis, tetapi juga kelumpuhan ekonomi. Dalam situasi yang demikian ini, dibutuhkan sikap tolong menolong dan kedermawanan dari kita semua untuk turut membantu saudara-saudara kita yang sedang ditimpa musibah ini.
Bencana yang melanda bangsa Indonesia harus disikapi sebagai ujian dari Allah SWT. Oleh karena itu kepada saudara-saudara yang menjadi korban kendaknya bersabar dalam menghadapinya karena Allah SWT telah menjanjikan berkah dan rahmat-Nya kepada orang-orang yang bersabar atas segala ujian yang diberikan-Nya. Allah SWT berfirman:

Artinya: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah ayat 155-157).
Musibah yang terjadi juga dijadikan sebagai peringatan untuk mengantisipasi bencana lain yang mungkin datang di kemudian hari. Tidak jarang bencana yang menimpa bangsa ini juga disebabkan oleh ulah tangan dan keserkahan manusia sendiri, misalnya pembalakan yang mengakibatkan banjir dan longsor, eksploitasi pertambangan dan pembangunan yang merusak lingkungan, dan sebagainya. Eksplotasi alam ini tidak jarang mendapat legitimasi dari otoritas yang berwenang, yang akhirnya harus dibayar sangat mahal oleh kita semua. Oleh karenanya, marilah kita semua, apakah pemimpin atau rakyat biasa, untuk saling mengingatkan dan mengoreksi diri, untuk selalu membuat kebijakan dan berprilaku untuk selalu menjaga kelestarian dan hidup berdampingan secara baik dengan alam semesta ini agar tragedi yang memilukan dan silih berganti  ini bisa dikendalikan .  
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,
Budaya kedermawanan, tolong menolong, dan semangat kerja keras menjadi sangat penting lagi untuk dikembangkan di Negara kita mengingat kemiskinan dan pengangguran masih menjadi problematika fundamental bangsa ini. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) yang dirilis pada Maret 2010, menunjukkan jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 31,02 juta orang atau 13,33 persen. Jumlanya menurun dibandingkan data Maret 2009 yang mencapai 32,53 juta orang atau 14,15 persen. Suatu jumlah yang masih tergolong besar. Lebih dari itu, gambaran kemiskinan ini menjadi lebih memprihatinkan manakala kita melihatnya dari sisi data bantuan beras dari Bulog untuk kaum miskin ini, ternyata angkanya jauh lebih besar, yakni 17,5 juta rumah tangga miskin! Ini berarti tidak kurang 70 juta orang (jika per rumah tangga ada empat orang) penduduk tergolong miskin sehingga harus menerima raskin. Demikian juga rakyat miskin yang menerima subsidi melalui program jaminan kesehatan masyarakat yang jumlahnya sebanyak 76,4 juta yang kurang mampu. Sedangkan jumlah pengangguran tahun 2010 mencapai 8,59 juta orang atau 7,41 persen, dan semuanya ini potensial menjadi miskin.
Melihat kondisi bangsa Indonesia dengan angka kemiskinan yang masih besar, dibutuhkan budaya kedermawanan, budaya untuk membantu sesama, terutama yang diarahkan untuk mengangkat orang-orang miskin tersebut menjadi sejahtera. Islam mengajarkan bahwa sesungguhnya di dalam harta yang kita miliki terdapat dimensi sosial karena di dalamnya terkandung  hak orang lain, sebagaimana firman Allah dalam surat adz-Dzariyat 51: 19:
Artinya: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
Selain itu, apapun yang kita miliki termasuk harta, pada dasarnya merupakan ujian, apakah kita menggunakannya untuk kebaikan atau kah keburukan. Allah SWT berfirman:  
Artinya: Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-An’am ayat 165)
Dalam sebuah hadist juga dikatakan bahwa pada suatu saat Nabi Muhammad SAW mengatakan kepada Hakim bin Hizam; “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak thama’ dan tidak mengemis), maka harta itu akan membarokahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan membarokahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah” (HR. Bukhari).
Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan bahwa hadits ini mendorong kepada umat Islam agar mengeluarkan harta yang dimilikinya kepada orang yang membutuhkan dengan penuh keikhlasan. Hadits lain yang juga menunjukkan kedermawanan Nabi Muhammad SAW, misalnya dalam hadits yang diriwayatkan Tabrani, Nabi Muhammad SAW bersabda: “tidak beriman kamu yang melewati malam dengan perut kenyang sementara tetangganya lapar.”
Budaya kedermawanan di atas hendaknya juga dibarengi dengan kerja keras karena rizki Allah tidak akan datang secara tiba-tiba. Kita bisa mencontoh bagaimana Nabi Ibrahim As dan Siti Hajar yang bekerja keras untuk mencari sumber air dalam masa-masa sulit ketika mengalami krisis air. Bahkan jerih payah Siti Hajar yang berlari-lari kecil (sa’i) di antara bukit  Sofa dan Marwah untuk mencari sumber air diabadikan sebagai bagian dari ibadah haji. Jadi untuk mengatasi kemiskinan, kefakiran atau kelaparan, tidak boleh hanya mengandalkan kedermawanan orang lain, melainkan dibutuhkan kerja keras dari setiap individu untuk mengentaskan dirinya dari kemiskinan. Untuk menumbuhkan semangat kerja keras, Nabi Muhammad SAW telah memberikan tips melalui haditsnya: “bekerjalah di dunia seakan engkau akan hidup selamanya dan berbuatlah untuk akhirat seakan engkau akan mati besok”. 
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ


Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,
Pengorbanan Ibrahim setidaknya bisa dijadikan modal sosial bagi kita untuk membangun kultur kedermawanan dan kerja keras. Jika kultur kedermawanan dan kerja keras ini terbangun, bukan tidak mungkin lambat laun tingkat kemiskinan di Negara kita akan terus berkurang. Apalagi dibalik angka kemiskinan yang cukup besar, ternyata ada juga sebagian masyarakat Indonesia yang memiliki kekayaan berlimpah. Berdasarkan rilis Majalah Globe Asia pada tahun 2010 ini, dari 15 orang yang masuk ke dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan di atas 805 juta dollar AS atau sekitar Rp. 7,5 triliun bahkan satu diantaranya memiliki kekayaan hingga 4,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 44 triliun. Total dari 150 orang terkaya di Indonesia tersebut, tahun 2010 ini naik 22 persen menjadi 61,5 miliar dollar AS. Angka itu merepresentasikan sekitar 12 persen dari produk domestik bruto Indonesia. Kita bayangkan, alangkah indahnya apabila insan-insan yang super kaya ini mau berbagi kasih dengan puluhan juta rakyat miskin, yang bukan saja memerlukan kebutuhan pokoknya (basic need), namun juga lapangan kerja, sehingga bisa mengangkatnya dari kemiskinan dan pengangguran, serta mengurangi beban bangsa yang masih sarat dengan persoalan ini.
Khususnya bagi kita yang sedang mengemban amanah sebagai pemimpin di Negara ini, hendaknya juga memiliki sikap kedermawanan, atau memberi kepada rakyatnya, bukan sebaliknya. Masyarakat tidak membutuhkan data statistik yang menunjukkan kemajuan Negara ini khususnya di sektor ekonomi, namun yang lebih penting adalah kondisi riil bahwa masyarakat sudah benar-benar mendapatkan kesejahteraan. Seringkali data kemajuan tersebut hanya dijadikan sebagai alat pencitraan. Padahal memberikan kesejahteraan kepada rakyat merupakan kewajiban seorang pemimpin, sehingga tidak perlu dijadikan sebagai alat pencitraan.
Kita bisa mencontoh kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab yang sangat peduli kepada rakyatnya. Suatu saat ketika beliau berjalan-jalan pada malam hari untuk melihat kondisi rakyatnya, beliau mendengar tangisan anak-anak kecil di balik sebuah rumah yang sederhana. Kemudian beliau menghampirinya. Setelah masuk, beliau melihat seorang ibu sedang memasak. Tanpa sadar bahwa yang datang adalah khalifah, ibu tersebut bercerita bahwa yang sedang dimasak adalah batu karena anak-anak akan berhenti dari tangisnya ketika melihat ibunya memasak hingga mereka tertidur. Ibu tersebut juga mengadu kepada Umar bin Khatab bahwa khalifah tidak bertanggung jawab kepada rakyatnya. Mendengar pengaduan ibu tersebut, beliau tidak lantas marah namun beliau berpamitan dan mengambil satu karung gandum dari baitul mal untuk diberikan kepada ibu tersebut, bahkan memasakkannya. Dari kisah ini nampak bahwa beliau adalah sosok pemimpin yang sangat peduli kepada rakyatnya, terutama rakyat kecil. Bahkan beliau memberi tanpa menunjukkan identitasnya sebagai khalifah, sehingga jauh dari tujuan pencitraan.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,
Saat ini sebagian saudara-saudara kita juga sedang berkumpul untuk melaksanakan ibadah haji di baitullah. Ibadah haji ini menjadi salah satu warisan Nabi Ibrahim dan telah menjadi ritual yang dikenang sepanjang masa. Jutaan umat Islam dari berbagai suku dan bangsa berkumpul seraya mengumandangkan kalimat Talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ‏
“Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilanMu, Tidak ada sekutu bagiNya, Ya Allah aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untukMu semata-mata. Segenap kerajaan untukMu. Tidak ada sekutu bagiMu“     
Kita mendoakan, mudah-mudahan Allah Swt menjadikan mereka sebagai: Hajjan Mabrur, Sya’yan Masykur, Dzanban Maghfur dan Tijarotan lan Tabur. Amin Allahumma Amin. Kita pun tentunya berdoa  dan berharap, pada tahun-tahun yang akan datang, terutama bagi kita yang belum berhaji, juga dapat menunaikan perintah Allah ini, sebagaimana dinyatakan-Nya dalam surat Ali Imran ayat 97:

 “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,       
Akhirnya, marilah kita bersama-sama mulai dari diri kita sendiri untuk menumbuhkan budaya kedermawanan dengan merelakan sebagian apa yang kita miliki untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Selain itu, budaya kerja keras juga sangat dibutuhkan untuk merubah segala sesuatu menjadi lebih baik. Marilah kita berdo’a agar melalui budaya kedermawanan dan kerja keras, Indonesia dapat menjadi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur (negara yang sejahtera dan diridhoi Allah SWT), sehingga dapat terwujud kesejahteraan bagi masyarakat secara menyeluruh.
 
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إَلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اْغفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُّجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إَنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلىَ اْلقَوْمِ اْلكَافِرِيْنَ.
Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, terimalah ibadah kami dan saudara-saudara kami di rumah-Mu, terimalah kurban kami sebagai pembersih nafsu-nafsu hewani dalam diri kami, berilah kami pahala terbaik di sisi-Mu.
Anugerahilah kami ya Allah, pemimpin yang mampu mengemban amanah, yang mampu bertanggung jawab, yang mampu melihat dan mendengar penderitaan sebagian bangsa Indonesia yang masih hidup dalam garis kemiskinan. Pemimpin yang dapat mengantarkan kami untuk meraih kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat dalam ridho dan inayah-Mu.
Anugerahilah kami kekuatan untuk memperbaiki bangsa kami, bangsa yang didalamnya ummat-Mu berjumlah demikian besar, agar kami mampu mengangkat derajat agama-Mu, menegakkan ajaran-Mu di negeri yang Engkau karuniakan kepada kami ini. Anugerahkan pula kepada kami keberanian untuk menegakkan yang benar walaupun pahit rasanya. Berikan kami kekuatan untuk senantiasa berada di jalan-Mu.
Ya Allah ya Rabbi, berikanlah kesabaran bagi kami bangsa Indonesia khususnya kepada saudara-saudara kami yang sedang ditimpa musibah dan bencana, serta jadikanlah mereka yang gugur sebagai syuhada’. Berikanlah kesadaran kepada kami bahwa sesungguhnya kami semua adalah milik-Mu, dan kepada-Mu lah kami akan kembali.
Ya Allah, jadikanlah kami sebagai ahlul hikmah yang dapat mengambil hikmah dari segala peristiwa termasuk musibah dan bencana yang secara bertubi-tubi melanda bangsa ini. Gantikanlah musibah dan bencana yang menimpa bangsa ini dengan sesuatu yang lebih baik.