Label

Selasa, 21 Desember 2010

Jebolnya Tanggul Babat Barriage

Jebolnya Tanggul Babat Barriage

Hari Ahad, 19 Desember tepat pukul 09.15… terdengar bunyi kenthongan “thung..thung..thung…” bernada titir…teriakan orang…”banjir …banjir…. tolong..tolong……..”
Nampak banyak orang kebingungan….tetapi nampak semua orang menuju satu titik Lapangan Pangkatrejo. Bunyi sirine ambulan mengaung..membawa sejumlah korban…nampak para relawan sigap menurunkan para korban yang luka maupun yang meninggal

Polisi dan TNI bahu-membahu menolong korban
Ibu-ibu membawa anak dan bekal seadanya berduyun-duyun...
Relawan membawa peralatan sederhana mengangkat para korban, untuk ditempatkan ke pusat evakuasi, karena Lapangan Pangkatrejo, mulai tergenang banjir
Pada saat bersamaan muncukl berita tentang adanya orang yang terjebak dan hanyut di Bengawan Solo, maka segera meluncur ambulan membawa prahu karet, untuk menolong korban yang terseret arus Bengawan Solo dan segera semua korban dievakuasi di tenda darurat yang telah didirikan di atas tanggul.
Korban hanyut di Bengawan Solo
Relawan dari DMC RS Muh Lamongan meluncur dengan perahu karet
Segera korban ditolong.....
 Tenda darurat didirikan di tempat evakuasi tanggul yang lebih tinggi


 Pendataan korban dilakukan dengan cermat











 Korban yang meninggal disendirikan





Miss Anita dar Kedubes Australia, memberikan evaluasi usai Simulasi Banjir bandang









Ketua LPB, PP Muhammadiyah menyampaika sambutan sekaligus menutup acara Simulasi

Jumat, 03 Desember 2010


Khotbah Jum'at, 03 Desember 2010 di Masjid Gedhe Kauman



“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al Hasyr : 18)
Takwa selalu menjadi kata kunci dalam kehidupan seorang manusia muslim, sehingga menjadi keniscayaan dalam setiap khutbah harus diucapkan dan harus menjadi pengingatan bagi kita semua, sebagaimana Allah SWT mengingatkan :
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat : 13)
Manusia, siapapun dia, adalah berawal dari seorang laki-laki, bapak Adam dan seorang perempuan ibu Hawa.  Jadi nilai keutamaan manusia bukan terletak pada keturunan siapa, suku maupun bangsa tetapi terletak pada “nilai takwa” nya. Inilah mesti menjadi catatan dengan huruf tebal bagi setiap manusia muslim.
Jamaah jum’ah yang senantiasa berupaya meningkatkan nilai takwa ke hadapan Allah SWT
Jum’ah hari ini merupakan Jum’ah terakhir di tahun 1431 H, hari ini kita berada pada tanggal 27 Dzulhijjah 1431 H, dan insya Allah pada hari Selasa 7 Desember nanti kita akan memasuki 1 Muharram 1432 H.  Untuk itu saat ini menjadi saat yang tepat untuk berkontemplasi bermuhasabah merenungi seluruh perjalanan hidup yang telah kita lalui dan mengevaluasi dengan kritis  serta merancang langkah kita ke depan dengan cermat.  Tolok ukur dari evaluasi maupun langkah ke depan tidak lain adalah TAKWA, sebagaimana firman Allah :


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah.
Dan janganlah sampai kita tidak jujur dengan evaluasi dan rancangan langkah kita ke depan karena :

“sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Jamaah Jum’ah yang berbahagia rahimakumullah
Momentum pergantian tahun hendaknya tidak kita lewatkan begitu saja, meski tidak perlu ada satu ritual khusus berkaitan pergantian tahun.  Tetapi tidak ada salahnya kita pada penghujung tahun 1431 H ini mengingat kembali pesan dari seorang ilmuwan dan ulama Islam dari Iran, Ali Syaria’ti, tentang “Empat  Belenggu Manusia”

1.      
      1. Belenggu Alam
Alam dengan segala fenomena yang terjadi sering membelenggu atau menjadi kendala aktivitas manusia, paling sederhana hujan yang turun kadang menjadi halangan manusia untuk melakukan aktivitas. Pada skala besar seperti yang baru saja terjadi Letusan Gunung Merapi ataupun tsunami dan gempa bumi, jelas telah menghambat dinamika aktivitas manusia.  Indionesia yang sering disebut dengan “untaian jamrud di katulistiwa” melambangkan kesuburan Indonesia, tetapi harus juga diingat Indonesia merupakan negara yang terletak di atas Kawasan Cincin Api dan pertemuan tiga lempeng benua, sehingga mempunyai potensi bencana yang tidak kecil.  Tetapi Allah SWT yang telah menjadikan manusia  sebagai khalifah di muka bumi telah membekali manusia dengan AKAL dan Ilmu Pengetahuan, sehingga mestinya manusia sebagai makhluk termulia akan selalu mampu beradaptasi dengan fenomena alam bahkan bencana alam, dan tidak bertekuk lutut terhadap fenomena alam.  Kita bisa mencontoh negara lain, yang hidup di daerah gempa, maka harus bisa membangun rumah tahan gempa, menyediakan peralatan yang mampu mendeteksi dini adanya tsunami.  Serta mensosialisasikan kepada masyarakat tentang mitigasi bencana atau pengurangan resiko bencana.  Sehingga manusia tidak harus terbelenggu oleh Alam dan lingkungan
Jamaah Jum’ah yang senantiasa rindu kemajuan dalam hidayah dan ridla Allah
2.       2. Belenggu Tradisi
Tradisi yang sudah mengakar dalam kehidupan manusia memang harus diakui telah membawa kemajuan bagi peradaban manusia.  Tradisi yang luhur layak dan harus dihormati, tetapi harus diingat bahwa tradisi sering terikat oleh ruang dan waktu, sehingga kita harus kritis terhadap tradisi demi kemajuan peradaban manusia. Janganlah sampai kita terbelenggu oleh tradisi, sebagaimana ummat Nabi Hud as, yang termaktub pada ayat :



Mereka menjawab: "Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat,
(agama kami) ini tidak lain hanyalah adat tradisi orang dahulu,
dan kami sekali-kali tidak akan di "adzab". (Asy Syu’ara : 136-138)

Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.” (Asy Syu’ara : 139)
Tradisi  yang dipertahankan oleh ummat Nabi Hud as, mestinya mengilhami kita untuk senantiasa kritis terhadap tradisi yang menghambat kemajuan serta bertentangan dengan nilai agama yang mengajarkan kebenaran haqiqi.
Demikian pula ayat dalam surat Al Maidah

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (Al Maidah : 104)
Ayat tersebut memberi isyarat dengan jelas bahwa “nenek moyang” tidak mengetahui apa-apa atau dalam bahasa lain “belum mempunyai ilmu pengetahuan yang maju”
Dengan demikian jangan sampai kita terjebak pada tradisi yang bisa saja menghambat kemajuan.
Jamaah Jum’ah yang senantiasa menginginkan kebenaran dan bukan hanya kebiasaan
3.    
3.    3. Belenggu Kebiasaan/Mode
Pada masa sekarang ini di era informasi dan komunikasi masyarakat akan mudah mengakses berbagai media yang kemudian bisa saja membentuk opini massa. Sehingga memunculkan sikap seseorang merasa tidak “sreg” kalo berbeda dengan “opini massa”.  Padahal bisa saja opini massa, atau pendapat umum tersebut bukanlah hal yang mempunyai kebenaran. Oleh karena itu perlu dimunculkan sikap keberanian yang “berani melawan arus”, sebagaimana telah ditunjukkan para pendahulu kita seperti KHA Dahlan, Ki Hajar Dewantoro dan tokoh-tokoh lain yang “tidak anut grubyug” begitu saja. Yang tentu saja mempunyai argument yang memadai dalam sikap keberanian tersebut
Jamaah jum’ah yang senantiasa berupaya tazkiyatunnafs
Ketiga belenggu di atas, secara nyata sesungguhnya bukan hal yang tidak bisa diatasi, tetapi dengan kesungguhan dan petunjuk Allah, manusia akan mampu mengatasi atau membebaskan diri dari ketiga belenggu tersebut.  Sehingga kalau manusia menyatakan dirinya tidak mampu mengatasi ketiga belenggu tersebut, bisa saja manusia tersebut sesungguhnya terjebak pada belenggu ke empat

4.    4. Belenggu Nafsu
Belenggu ini merupakan belenggu yang paling kuat, dan karena bersembunyi dalam diri manusia.  Tidak sedikit manusia yang terbelenggu oleh belenggu nafsu, dan lebih menakutkan karena tidak sedikit manusia yang tidak menyadari bahwa dirinya terbelenggu oleh nafsu, sebagai mana firman Allah SWT :
      
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? “(Al Jatsiyah :23)
Oleh karena itu menjadi perlu bagi kita untuk bermuhasabah pada diri masing-masing, agar kita bisa terlepas dari belenggu nafsu, dan kita menemukan kebenaran sejati. Dan kita mampu mengendalikan nafsu yang ada pada diri kita, sehingga kita akan menjadi “sebaik-baik kejadian”

Demikianlah pada momentum perpindahan tahun hijriyah ini, hendaknya kita mampu melakukan hijrah untuk meningkatkan kualitas diri.

Jumat, 26 November 2010

PERNYATAAN SIKAP  WARGA MUHAMMADIYAH / KAMPUNG KAUMAN YOGYAKARTA 
TERHADAP PENYELENGGARA FFI.

Film “Sang Pencerah” jelas sangat punya arti khusus bagi kami warga muhammadiyah atau warga Kampung Kauman Yogyakarta.Suatu penghargaan yang sangat besar untuk kami ketika kisah Kiai Ahmad Dahlan yang seorang pahlawan nasional sekaligus pendiri organisasi Muhammadiyah di tuangkan dalam sebuah film.Hampir 2 juta penonton yang telah mengapresiasi film ini termasuk beberapa menteri dan pejabat negara, bapak wakil presiden Boediono pun tak ketinggalan memberikan penilaian dua jempol untuk film ini.
Kepentingan kami terhadap film “sang pencerah” sangatlah sederhana,kami hanya ingin menggunakan film ini sebagai media da’wah kami menyampaikan atau meneruskan ajaran-ajaran Kiai Ahmad Dahlan tentang toleransi beragama,bersikap adil dan saling mengasihi antar sesama.
Oleh karena itu, tidak bisa di pungkiri bahwa kami sesungguhnya menginginkan film yang bercerita tentang sejarah pendahulu kami, film yang bercerita tentang sejarah berdirinya organisasi kami ini di apresiasi lebih oleh sebuah lembaga festival film, entah festival film di luar negeri atau di dalam negeri sendiri.Karena kami menganggap di situlah salah satu tempat kami untuk melakukan da’wah tentang ajaran-ajaran Kiai Ahmad Dahlan.
Sayangnya niat kami itu di hambat oleh sikap dan pernyataan dari panitia Festival Film Indonesia (FFI) sendiri.dalam suatu kesempatan ibu Viva Westi selaku ketua komite seleksi FFI menyatakan bahwa film “sang pencerah” salah dalam menggunakan landasan history dan banyak data sejarah yang salah. Sejarah Kiai Ahmad Dahlan dan sejarah Muhammadiyah memang milik bangsa, tetapi jangan melupakan kami sebagai pihak yang mempunyai keterikatan langsung di dalam sejarah tersebut.Sejarah Kiai Dahlan yang mana yang di anggap salah? sejarah tentang Muhammadiyah yang mana yang di anggap salah?
Seandainya memang ada kesalahan data atau cerita sejarah yang salah menyangkut pendahulu kami, apakah kami akan merasa di rugikan?
Kami selaku pihak yang mempunyai keterikatan langsung terhadap sejarah Kiai Ahmad Dahlan dan Organisasi Muhammadiyah tidak pernah di konfirmasi oleh pihak FFI atau Komite Sejarah sehubungan dengan pernyataan dan penilaiannya tentang kesalahan data sejarah di dalam film “Sang Pencerah”.
Dalam permasalahan ini Kami menganggap pihak FFI atau Komite Seleksi FFI telah menghambat niat Da’wah dan siar kami menyampaikan ajaran-ajaran Kiai Ahmad Dahlan. dan sedikit melukai hati kami
Oleh karena itu kami menyatakan kecewa terhadap apa yang di lakukan oleh pihak FFI dan Komite Seleksi FFI
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan petunjuk Nya kepada kita semua...Amiin

Senin, 22 November 2010

Khutbah Idul Adha

Khutbah Idul Adha
10 Dzulhijjah 1431 H/ 16 November 2010 M

KONTEKSTUALISASI PENGORBANAN DAN PERJUANGAN IBRAHIM: “MENUMBUHKAN BUDAYA KEDERMAWANAN, TOLONG MENOLONG, DAN KERJA KERAS DI TENGAH BENCANA ALAM DI INDONESIA”
Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M. Ec
Rektor Universitas Islam Indonesia


Jama’ah shalat Idul Adha yang berbahagia,
Alhamdulillahirabbil‘alamin, suatu kata yang layak kita ucapkan pagi ini, karena demikian banyak limpahan rahmat dan karunia-Nya yang kita terima dari-Nya, termasuk pagi hari ini kita masih diberi-Nya kesempatan untuk melaksanakan shalat Idul Adha, berjama’ah di tempat yang lapang ini, tanpa ada halangan suatu apapun. Rutinitas nikmat yang kita terima terkadang membuat kita lupa untuk mensyukuri nikmat yang sungguh agung, yaitu berupa nikmat kehidupan, nikmat kesempatan yang memungkinkan kita untuk menikmati atau melakukan sesuatu yang kita inginkan. Oleh karena itu, sungguh naif apabila kita mengingkari nikmat yang telah Allah berikan kepada kita sebagai hamba-Nya, sebagaimana diingatkan Allah secara berulang di dalam surat Ar-Rahman (55:13):
Artinya: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kenikmatan kita bisa melaksanakan shalat Idul Adha pagi ini, tidak belum tentu dinikmati juga oleh saudara kita yang lain yang sebenarnya juga ingin melakukannya. Bencana banjir Wasior, Tsunami Mentawai, dan Ketusan Merapa di Jogja-Jawa tengah, bisa jadi membuat saudara-saudara kita yang ingin melaksanakan shalat Idul Adha sebagaimana yang kita laksanakan pagi hari ini, namun karena berbagai situasi dan kondisi, mereka tidak dapat melaksanakannya. Atau seandainya bisa melaksanakan pun tentunya suasananya tidak senyaman yang kita dirasakan di tempat ini. Pada kesempatan ini, marilah kita juga mendo’akan agar saudara-saudara kita yang sedang ditimpa musibah bencana alam dapat diberikan kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapinya, dan segera bisa bangkit kembali dari tragedi alam dan kemanusiaan yang menimpanya. amiin         
Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan ke haribaan nabi besar Muhammad SAW, yang dengan segenap pengorbanannya telah menyampaikan risalah Islam kepada umatnya. Semoga kita termasuk dari golongan umatnya yang senantiasa dapat melaksanakan sunnah-sunnahnya hingga akhir zaman nanti.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,
Prosesi dan perayaan Idul Adha hari ini dan ibadah haji yang dilaksanakan saudara-saudara kita di tanah suci, tidak bisa dilepaskan dari napak tilas pengorbanan Nabi Ibrahim As bersama istri (Siti Hajar) dan anaknya (Ismail As). Pada momen ini, kita sedikit mengingat kembali peristiwa tersebut seraya mengambil hikmah di baliknya. Bermula dari usia perkawinan Nabi Ibrahim As dengan Siti Sarah yang sudah cukup lama, namun belum kunjung dikarunia seorang anak pun. Sebagai insan manusia, tentu beliau sangat berharap untuk segera dikarunia anak yang dapat menjadi generasi penerusnya. Beliau secara khusu’ terus menerus memanjatkan do’a:

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh (QS. as-Shafat: 100)
Atas ijin Siti Sarah, kemudian beliau memperistri Siti Hajar dan akhirnya dikaruniai seorang anak bernama Ismail. Di saat Isma’il masih menyusu, Nabi Ibrahim As diperintahkan oleh Allah SWT untuk membawa Siti Hajar dan Isma’il ke suatu lembah gersang yang sunyi dan tidak ada penduduk seorang pun, dan ini diterimanya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Di tempat tersebut, yang kemudian menjadi Kota Mekkah Al-Mukaramah, Siti Hajar mengalami krisis air, sehingga tidak lagi bisa menyusui. Kemudian Siti Hajar mencari air sambil berlari-lari kecil (sa’i) di antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak tujuh kali, sampai ditemukannya pancaran air dari tanah yang diinjak-injak Ismail. Air inilah yang kemudian dinamakan Air Zam-Zam yang sampai sekarang tidak pernah kering meski telah dikonsumsi oleh jutaan jamaah haji yang datang setiap tahunnya.
Ketika Isma’il baru berumur tujuh tahun, cobaan Allah kembali datang. Nabi Ibrahim As melalui mimpinya diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih Isma’il As dengan tangannya sendiri. Ujian ini tentunya sangat berat, namun Nabi Ibrahim As dan Isma’il As tetap sabar dan ikhlas dalam menghadapinya. Bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim As melaksanakan perintah tersebut. Ketika beliau sudah menempelkan pisaunya di leher Ismail As, sebagai imbalan dari kesabaran dan keikhlasannya, Allah SWT menggantinya dengan seekor kambing sebagai korban.
Rangkaian cobaan yang diterima Nabi Ibrahim As beserta sang putra, Nabi Ismail As, dan Siti Hajar ini yang kemudian diabadikan dalam ritual ibadah di bulan Dzulhijjah ini, baik dalam rangkaian ibadah haji, maupun ibadah qurban.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,
Begitu bermaknanya peristiwa tersebut sehingga tanggal 10 Dzulhijjah diabadikan sebagai hari raya umat Islam, yaitu Idul Adha atau sering juga disebut sebagai Idul Qurban. Sangat banyak hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa itu, kita tarik dalam konteks kekinian dalam kehidupan umat dan bangsa ini. Ini jauh lebih penting dari sekedar kegiatan kegiatan seremonial saja, namun lebih dari itu yang terpenting adalah mengambil pelajaran (hikmah) berharga dari peristiwa tersebut sebagaimana firman Allah SWT:
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (QS. as-Shaffat: 108).
Salah satu pelajaran yang dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim As tersebut adalah sifat rela berkorban, ikhlas menerima cobaan, selalu  melaksanakan perintah Allah, dan nilai-nilai kerja keras untuk bertahan. Alangkah damai dan sejahteranya  dunia ini kalau kalau sifat dan nilai itu menjadi keseharian kita semua.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,
Dalam konteks sekarang, ruh dan semangat itu sangat relevan, bagaimana kita dengan kemampuan masing-masing yang kita miliki untuk rela berkorban membantu sesama yang mungkin membutuhkan uluran tangan kita. Atasan membantu bawahan, yang kuat membantu yang lemah, yang besar membantu yang kecil, yang kaya membantu yang miskin, pemimpin membantu rakyatnya, dan yang senang membantu yang susah atau yang terkena musibah.  
Sebagian Saudara kita saat ini sedang dilanda bencana alam secara bertubi-tubi. Setelah banjir bandang Wasior Papua Barat yang menewaskan ratusan nyawa, di Mentawai Sumatera Barat juga ditimpa musibah tsunami yang menewaskan lebih banyak nyawa lagi. Terakhir, gunung Merapi yang merupakan salah satu gunung teraktif di dunia kembali menunjukkan aktivitasnya dan lebih dua ratus nyawa saudara kita, sahabat kita, tetangga kita, terenggut di DIY dan Jawa Tengah. Bencana ini menyisakan kepiluan, kesedihan, dan juga kesulitan hidup. Mereka bukan saja mengalami trauma psikologis, tetapi juga kelumpuhan ekonomi. Dalam situasi yang demikian ini, dibutuhkan sikap tolong menolong dan kedermawanan dari kita semua untuk turut membantu saudara-saudara kita yang sedang ditimpa musibah ini.
Bencana yang melanda bangsa Indonesia harus disikapi sebagai ujian dari Allah SWT. Oleh karena itu kepada saudara-saudara yang menjadi korban kendaknya bersabar dalam menghadapinya karena Allah SWT telah menjanjikan berkah dan rahmat-Nya kepada orang-orang yang bersabar atas segala ujian yang diberikan-Nya. Allah SWT berfirman:

Artinya: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah ayat 155-157).
Musibah yang terjadi juga dijadikan sebagai peringatan untuk mengantisipasi bencana lain yang mungkin datang di kemudian hari. Tidak jarang bencana yang menimpa bangsa ini juga disebabkan oleh ulah tangan dan keserkahan manusia sendiri, misalnya pembalakan yang mengakibatkan banjir dan longsor, eksploitasi pertambangan dan pembangunan yang merusak lingkungan, dan sebagainya. Eksplotasi alam ini tidak jarang mendapat legitimasi dari otoritas yang berwenang, yang akhirnya harus dibayar sangat mahal oleh kita semua. Oleh karenanya, marilah kita semua, apakah pemimpin atau rakyat biasa, untuk saling mengingatkan dan mengoreksi diri, untuk selalu membuat kebijakan dan berprilaku untuk selalu menjaga kelestarian dan hidup berdampingan secara baik dengan alam semesta ini agar tragedi yang memilukan dan silih berganti  ini bisa dikendalikan .  
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,
Budaya kedermawanan, tolong menolong, dan semangat kerja keras menjadi sangat penting lagi untuk dikembangkan di Negara kita mengingat kemiskinan dan pengangguran masih menjadi problematika fundamental bangsa ini. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) yang dirilis pada Maret 2010, menunjukkan jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 31,02 juta orang atau 13,33 persen. Jumlanya menurun dibandingkan data Maret 2009 yang mencapai 32,53 juta orang atau 14,15 persen. Suatu jumlah yang masih tergolong besar. Lebih dari itu, gambaran kemiskinan ini menjadi lebih memprihatinkan manakala kita melihatnya dari sisi data bantuan beras dari Bulog untuk kaum miskin ini, ternyata angkanya jauh lebih besar, yakni 17,5 juta rumah tangga miskin! Ini berarti tidak kurang 70 juta orang (jika per rumah tangga ada empat orang) penduduk tergolong miskin sehingga harus menerima raskin. Demikian juga rakyat miskin yang menerima subsidi melalui program jaminan kesehatan masyarakat yang jumlahnya sebanyak 76,4 juta yang kurang mampu. Sedangkan jumlah pengangguran tahun 2010 mencapai 8,59 juta orang atau 7,41 persen, dan semuanya ini potensial menjadi miskin.
Melihat kondisi bangsa Indonesia dengan angka kemiskinan yang masih besar, dibutuhkan budaya kedermawanan, budaya untuk membantu sesama, terutama yang diarahkan untuk mengangkat orang-orang miskin tersebut menjadi sejahtera. Islam mengajarkan bahwa sesungguhnya di dalam harta yang kita miliki terdapat dimensi sosial karena di dalamnya terkandung  hak orang lain, sebagaimana firman Allah dalam surat adz-Dzariyat 51: 19:
Artinya: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
Selain itu, apapun yang kita miliki termasuk harta, pada dasarnya merupakan ujian, apakah kita menggunakannya untuk kebaikan atau kah keburukan. Allah SWT berfirman:  
Artinya: Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-An’am ayat 165)
Dalam sebuah hadist juga dikatakan bahwa pada suatu saat Nabi Muhammad SAW mengatakan kepada Hakim bin Hizam; Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak thama’ dan tidak mengemis), maka harta itu akan membarokahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan membarokahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah” (HR. Bukhari).
Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan bahwa hadits ini mendorong kepada umat Islam agar mengeluarkan harta yang dimilikinya kepada orang yang membutuhkan dengan penuh keikhlasan. Hadits lain yang juga menunjukkan kedermawanan Nabi Muhammad SAW, misalnya dalam hadits yang diriwayatkan Tabrani, Nabi Muhammad SAW bersabda: “tidak beriman kamu yang melewati malam dengan perut kenyang sementara tetangganya lapar.”
Budaya kedermawanan di atas hendaknya juga dibarengi dengan kerja keras karena rizki Allah tidak akan datang secara tiba-tiba. Kita bisa mencontoh bagaimana Nabi Ibrahim As dan Siti Hajar yang bekerja keras untuk mencari sumber air dalam masa-masa sulit ketika mengalami krisis air. Bahkan jerih payah Siti Hajar yang berlari-lari kecil (sa’i) di antara bukit  Sofa dan Marwah untuk mencari sumber air diabadikan sebagai bagian dari ibadah haji. Jadi untuk mengatasi kemiskinan, kefakiran atau kelaparan, tidak boleh hanya mengandalkan kedermawanan orang lain, melainkan dibutuhkan kerja keras dari setiap individu untuk mengentaskan dirinya dari kemiskinan. Untuk menumbuhkan semangat kerja keras, Nabi Muhammad SAW telah memberikan tips melalui haditsnya: “bekerjalah di dunia seakan engkau akan hidup selamanya dan berbuatlah untuk akhirat seakan engkau akan mati besok”. 
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ


Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,
Pengorbanan Ibrahim setidaknya bisa dijadikan modal sosial bagi kita untuk membangun kultur kedermawanan dan kerja keras. Jika kultur kedermawanan dan kerja keras ini terbangun, bukan tidak mungkin lambat laun tingkat kemiskinan di Negara kita akan terus berkurang. Apalagi dibalik angka kemiskinan yang cukup besar, ternyata ada juga sebagian masyarakat Indonesia yang memiliki kekayaan berlimpah. Berdasarkan rilis Majalah Globe Asia pada tahun 2010 ini, dari 15 orang yang masuk ke dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan di atas 805 juta dollar AS atau sekitar Rp. 7,5 triliun bahkan satu diantaranya memiliki kekayaan hingga 4,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 44 triliun. Total dari 150 orang terkaya di Indonesia tersebut, tahun 2010 ini naik 22 persen menjadi 61,5 miliar dollar AS. Angka itu merepresentasikan sekitar 12 persen dari produk domestik bruto Indonesia. Kita bayangkan, alangkah indahnya apabila insan-insan yang super kaya ini mau berbagi kasih dengan puluhan juta rakyat miskin, yang bukan saja memerlukan kebutuhan pokoknya (basic need), namun juga lapangan kerja, sehingga bisa mengangkatnya dari kemiskinan dan pengangguran, serta mengurangi beban bangsa yang masih sarat dengan persoalan ini.
Khususnya bagi kita yang sedang mengemban amanah sebagai pemimpin di Negara ini, hendaknya juga memiliki sikap kedermawanan, atau memberi kepada rakyatnya, bukan sebaliknya. Masyarakat tidak membutuhkan data statistik yang menunjukkan kemajuan Negara ini khususnya di sektor ekonomi, namun yang lebih penting adalah kondisi riil bahwa masyarakat sudah benar-benar mendapatkan kesejahteraan. Seringkali data kemajuan tersebut hanya dijadikan sebagai alat pencitraan. Padahal memberikan kesejahteraan kepada rakyat merupakan kewajiban seorang pemimpin, sehingga tidak perlu dijadikan sebagai alat pencitraan.
Kita bisa mencontoh kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab yang sangat peduli kepada rakyatnya. Suatu saat ketika beliau berjalan-jalan pada malam hari untuk melihat kondisi rakyatnya, beliau mendengar tangisan anak-anak kecil di balik sebuah rumah yang sederhana. Kemudian beliau menghampirinya. Setelah masuk, beliau melihat seorang ibu sedang memasak. Tanpa sadar bahwa yang datang adalah khalifah, ibu tersebut bercerita bahwa yang sedang dimasak adalah batu karena anak-anak akan berhenti dari tangisnya ketika melihat ibunya memasak hingga mereka tertidur. Ibu tersebut juga mengadu kepada Umar bin Khatab bahwa khalifah tidak bertanggung jawab kepada rakyatnya. Mendengar pengaduan ibu tersebut, beliau tidak lantas marah namun beliau berpamitan dan mengambil satu karung gandum dari baitul mal untuk diberikan kepada ibu tersebut, bahkan memasakkannya. Dari kisah ini nampak bahwa beliau adalah sosok pemimpin yang sangat peduli kepada rakyatnya, terutama rakyat kecil. Bahkan beliau memberi tanpa menunjukkan identitasnya sebagai khalifah, sehingga jauh dari tujuan pencitraan.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,
Saat ini sebagian saudara-saudara kita juga sedang berkumpul untuk melaksanakan ibadah haji di baitullah. Ibadah haji ini menjadi salah satu warisan Nabi Ibrahim dan telah menjadi ritual yang dikenang sepanjang masa. Jutaan umat Islam dari berbagai suku dan bangsa berkumpul seraya mengumandangkan kalimat Talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ
Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilanMu, Tidak ada sekutu bagiNya, Ya Allah aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untukMu semata-mata. Segenap kerajaan untukMu. Tidak ada sekutu bagiMu     
Kita mendoakan, mudah-mudahan Allah Swt menjadikan mereka sebagai: Hajjan Mabrur, Sya’yan Masykur, Dzanban Maghfur dan Tijarotan lan Tabur. Amin Allahumma Amin. Kita pun tentunya berdoa  dan berharap, pada tahun-tahun yang akan datang, terutama bagi kita yang belum berhaji, juga dapat menunaikan perintah Allah ini, sebagaimana dinyatakan-Nya dalam surat Ali Imran ayat 97:

 “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Adha yang berbahagia,       
Akhirnya, marilah kita bersama-sama mulai dari diri kita sendiri untuk menumbuhkan budaya kedermawanan dengan merelakan sebagian apa yang kita miliki untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Selain itu, budaya kerja keras juga sangat dibutuhkan untuk merubah segala sesuatu menjadi lebih baik. Marilah kita berdo’a agar melalui budaya kedermawanan dan kerja keras, Indonesia dapat menjadi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur (negara yang sejahtera dan diridhoi Allah SWT), sehingga dapat terwujud kesejahteraan bagi masyarakat secara menyeluruh.
 
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إَلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اْغفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُّجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إَنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلىَ اْلقَوْمِ اْلكَافِرِيْنَ.
Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, terimalah ibadah kami dan saudara-saudara kami di rumah-Mu, terimalah kurban kami sebagai pembersih nafsu-nafsu hewani dalam diri kami, berilah kami pahala terbaik di sisi-Mu.
Anugerahilah kami ya Allah, pemimpin yang mampu mengemban amanah, yang mampu bertanggung jawab, yang mampu melihat dan mendengar penderitaan sebagian bangsa Indonesia yang masih hidup dalam garis kemiskinan. Pemimpin yang dapat mengantarkan kami untuk meraih kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat dalam ridho dan inayah-Mu.
Anugerahilah kami kekuatan untuk memperbaiki bangsa kami, bangsa yang didalamnya ummat-Mu berjumlah demikian besar, agar kami mampu mengangkat derajat agama-Mu, menegakkan ajaran-Mu di negeri yang Engkau karuniakan kepada kami ini. Anugerahkan pula kepada kami keberanian untuk menegakkan yang benar walaupun pahit rasanya. Berikan kami kekuatan untuk senantiasa berada di jalan-Mu.
Ya Allah ya Rabbi, berikanlah kesabaran bagi kami bangsa Indonesia khususnya kepada saudara-saudara kami yang sedang ditimpa musibah dan bencana, serta jadikanlah mereka yang gugur sebagai syuhada’. Berikanlah kesadaran kepada kami bahwa sesungguhnya kami semua adalah milik-Mu, dan kepada-Mu lah kami akan kembali.
Ya Allah, jadikanlah kami sebagai ahlul hikmah yang dapat mengambil hikmah dari segala peristiwa termasuk musibah dan bencana yang secara bertubi-tubi melanda bangsa ini. Gantikanlah musibah dan bencana yang menimpa bangsa ini dengan sesuatu yang lebih baik.


Selasa, 02 November 2010

LEMBAGA PENANGGULANGAN BENCANA - PP MUHAMMADIYAH

Lembaga Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah
Pengamalan Surat Al Ma'un



Kepedulian Muhammadiyah terhadap mereka yang membutuhkan atau orang yang perlu ditolong sudah ada sejak lahirnya.  Seperti pada kisah Kyai Dahlan ketika mengajarkan surat Al Ma’un kepada para muridnya, maka pengulangan pelajaran tersebut dimaksud agar para muridnya tidak hanya menghafal surat tersebut tetapi sekaligus mengamalkan.
Dalam konteks surat Al Ma’un maka ada dua obyek yang harus diperhatikan yaitu “anak yatim” dan “orang miskin”.  Secara bahasa anak yatim sering diartikan dengan anak yang sudah tidak punya orang tua, sedang orang miskin adalah orang yang tidak punya harta.  Sehingga kedua obyek tersebut harus dibantu agar kita tidak termasuk orang yang mendustakan agama.
Dalam konteks bencana, maka korban bencana adalah “orang yang butuh kepedulian” dan “orang yang kehilangan harta”.  Maka agar kita tidak termasuk orang yang mendustakan agama, maka kita harus peduli kepada korban bencana.  Oleh karena itulah bisa kita fahami dalam perluasan pemahaman dan pengamalan Al Ma’un, maka menjadi kewajiban kita bersama untuk membantu korban bencana.
Pada tahun 1919, terjadi letusan G Kelud, Kyai Sujak menggalang warga Muhammadiyah untuk membantu korban G Kelud, sebagai pengamalan surat Al Ma’un.  Kemudian dalam perjalanan persyarikatan, gerakan tersebut dilembagakan dalam PKO, yang kemudian berkembang menjadi MDMC (pasca bencana Tsunami Aceh 2004).   Karena perluasan gerakan maka pasca muktamar Yogyakarta, PP Muhammadiyah membentuk Lembaga Penanggulangan Bencana yang langsung di bawah PP Muhammadiyah.  Karena nama MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) sudah popular maka kedua nama tersebut dipakai oleh Muhammadiyah.  Ada tiga divisi pada struktur LPB PP Muhammadiyah, yaitu divisi Kesiapsiagaan dan Mitigasi, Divisi Tanggap Darurat, serta Divisi Rehabilitasi dan Kerjasama
Pasca muktamar se abad Muhammadiyah, ada beberapa bencana yang terjadi di tanah air, mulai dari letusan G Sinabung di Sumatera Utara, Banjir dan Longsor di Wasior Papua barat, Letusan Gunung Merapi di Yogyakarta, serta Tsunami Mentawai.  Alhamdulillah meski belum maksimal LPB PP Muhammadiyah dengan didukung oleh Rumh Sakit PKU Muhammadiyah telah mampu berbuat, baik dari segi medis, penyaluran logistik juga pendampingan psikososial dan pendidikan.


Minggu, 24 Oktober 2010

KORBAN BANJIR WASIOR BUTUH PENDAMPINGAN

KORBAN BANJIR WASIOR BUTUH PENDAMPINGAN
Muhammadiyah Kirim Relawan Psikososial 22/10/2010 06:35:36 YOGYA (KR) -
PP Muhammadiyah mengirimkan tim relawan kedua ke wilayah bencana banjir di Wasior dan Manokwari Papua Barat itu. Tim relawan kedua merupakan tim relawan psikososial dari PP Muhammadiyah ini berkonsentrasi untuk melakukan pendampingan terhadap para korban banjir di wilayah itu. Tim berangkat ke Manokwari Kamis (21/10). “Kita kirimkan dua relawan yang merupakan eks relawan Sumatera Barat yakni Agung Nugroho dan Ajron Latif. Mereka akan melakukan pendampingan psikososial terhadap para korban bencana di wilayah itu,” jelas Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah Budi Setiawan di Kantor PP Muhammadiyah Jalan Cik Ditiro, Kamis (21/10). Pengiriman tim ke-2 dilaksanakan berdasarkan laporan tim relawan pertama yang dikirim Muhammadiyah. Dijelaskan Budi, kedua relawan yang dikirim ke Wasior tersebut merupakan tim relawan sudah terlatih melakukan pendampingan psikososial pada korban bencana. Mereka juga membawa beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk pendampingan korban bencana tersebut antara lain, buku bacaan, buku pelajaran dan beberapa alat permainan edukasi. Mereka akan melatih 100 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kependidikan Muhammadiyah Manokwari untuk ikut menjadi relawan pendamping para korban banjir itu. “Target utama kita adalah anak-anak. Karena mereka rentan terhadap stres, setelah itu akan melebar ke orang dewasa,” tambah Budi. Tim inipun akan berada di Manokwari hingga proses pendampingan pengungsi berjalan dengan baik. Sebelumnya Koordinator Tim Relawan Wasior PP Muhammadiyah Budi Santoso SPsi di kantor PP Muhammadiyah mengatakan, ribuan korban banjir di Wasior dan Manokwari Papua Barat sangat membutuhkan pendampingan psikososial setelah tiga minggu berada di daerah pengungsian pasca bencana banjir yang meluluhlantakkan Kota Wasior (4/10) lalu. (Fsy)-f Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Pemerintah daerah yang ada di wilayah tersebut kurang menyentuh aspek pendampingan tadi. “Relawan pendampingan masih sangat kurang. Padahal mereka berkumpul dalam satu tempat tanpa aktivitas. Sehingga gesekan-gesekan yang terjadi antara pengungsi bisa menimbulkan konflik tersendiri,” jelasnya. Menurut Budi, pengungsi Wasior sebagian besar terkumpul di dua titik pengungsian yaitu di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) dan di lapangan Kodim Monokwari. Berbagai suku dan etnis terkumpul menjadi satu selama berhari-hari dan tanpa kegiatan maupun pekerjaan sama sekali. “Kondisi inilah yang bisa memunculkan gesekan dan konflik baru di Wasior,” tegasnya. Meskipun kebutuhan logistik seperti makanan dan pakaian masih juga dibutuhkan oleh para pengungsi tersebut. Pengiriman pertama tim relawan PP Muhammadiyah terdiri atas 7 orang. Mereka adalah Budi Santoso, dr Corona Rintawan (dokter/RS Muhammadiyah Lamongan), dr Rano Irmawan (dokter RS PKU Muhammadiyah Bantul), Aang Heru, Reso Joyo, Ferdinand (perawat RS Muhammadiyah Lamongan) dan Indra Prasetyantoro (perawat RS PKU MUhammadiyah Bantul). Mereka berada di Wasior dan Manokwari selama seminggu (11-16/10) di daerah bencana tersebut. Tim itupun dibagi dalam dua regu penanganan tanggap darurat bencana di Papua Barat tersebut yaitu ke Wasior dan di Manokwari sendiri. “Kami bekerjasama dengan lembaga lain baik dengan Mer-C, Karina maupun dengan lembaga lainnya,” tambah Budi. Tim yang di Wasior sendiri melakukan penyisiran penanganan tanggap darurat bencana terutama kesehatan di beberapa wilayah di sekitar Wasior termasuk di Rado dan Pulau Sobe. (Fsy)
http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=227422&actmenu=36

Kamis, 30 September 2010

Bedah Buku SEJARAH KAUMAN "Menguak Identitas Kampung Muhammadiyah" di ADi TV

Bedah Buku SEJARAH KAUMAN
"Menguak Identitas Kampung Muhammadiyah" di ADi TV



Kauman sebuah perkampungan yang terletak di sebelah barat Alun-alun Utara Yogyakarta.  Pada akhir abad 19 atau memasuki awal abad 20, kampung ini hanya sebuah pemukiman kecil dari sebuah masyarakat yang memiliki karakteristik khusujs.  Tetapi dari kampung kecil inilah sebuah gerakan besar lahir.  Perintisnya seorang Khatib Masjid Besar Yogyakarta.  Penggeraknya para santri di Langgar Kidul yang dikenal reformis dan progresif.  Khatib tersebut tidak lain adalah KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Buku ini menguak bagaimana proses KH. Ahmad Dahlan dan santri-santrinya mengenalkan pemahaman Islam modern dalam konteks masyarakat Islam tradisional yang mengisolasi diri dari perubahan-perubahan yang tengah terjadi di Yogyakarta pada awal abad ke-20.
Penulis buku ini adalah Ahmad Adaby Darban, lahir di Yogyakarta 25 Februari 1952. Dia adalah putra HM. Darban AW dengan Hj Sitti Aminah.  Mengenyam pendidikan di TK Bustanul Athfal Kauman, SD Muhammadiyah Ngupasan, SMP Muhammadiyah 1, dan pernah merangkap di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Yogyakarta, kemudian melanjutkan di SMA Negeri IV.  Pendidikan tinggi ditempuh Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, kemudian melanjutkan S2 Jurusan Humaniora Fakultas Pasca Sarjana UGM.  Pada tahun 1990-1991 mengikuti Pra S3 di Monash University Australia.
Dalam organisasi dimulai dari Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah Sosrokusuman, kemudian Ketua Umum Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), juga kemudian aktif di PP Tapak Suci Putra Muhammadiyah.  Ketua Majelis Pustaka PP Muhammadijabat tahun 1995-2000, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah tahun 2000-2005 serta pada tahun 2005-2010 sebagai Wakil Ketua Lembaga Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah pada tahun 2005-2010.


Senin, 27 September 2010

Solat Idul Fithri 1431 H di Alun-alun Utara Yogyakarta

Solat Idul Fithri 1431 H di Alun-alun Utara Yogyakarta

Oblok-oblok 1 Syawal 1431 H di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Oblok-oblok 1 Syawal 1431 H di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta


Setiap subuh 1 Syawal, usai imam mengucap salam dan melantunkan kalimah takbir, maka disampaikan kepada para jamaah :
“Mohon kepada para jamaah usai jamaah subuh ini langsung ke serambi untuk sejenak mengikuti acara pembatalan puasa….”
Maka para jamaahpun segera ke serambi, dan diserambi telah tersedia makanan khas “Oblok-oblok” dan teh hangat. Sembari menunggu semuanya mendapat bagian, takbir terus dilantunkan. Setelah semua duduk dengan tertib, acara diisi dengan sambutan tunggal oleh Ketua Takmir Masjid Gedhe, yang menyampaikan ucapan terima kasih dan sedikit laporan kegiatan Ramadhan yang telah berlangsung. Acara dipungkasi dengan bersalam-salaman saling mengucapkan Selamat Idul Fithri dan saling bermaaf-maafan.
Acara “Oblok-blok” 1 Syawal ini mulai dilaksanakan sekitar tahun 90-an, pada masa takmir dipimpin oleh Ir. H. Basit Wahid. Dikarenakan terdapat perbedaan perhitungan hisab 1 Syawal antara Muhammadiyah dan pemerintah, maka untuk memantapkan kepada jamaah Masjid Gedhe Kauman yang selalu mengikuti Keputusan Maj Tarjih PP Muhammadiyah, maka diadakanlah acara tersebut, dengan menunjukkan hari itu sudah tidak puasa lagi, dengan makan-minum ala kadarnya.
 Tanggal 1 Syawal banyak yang sudah sibuk dengan kegiatan keluarga masing-masing, sehingga dipilih oblok-oblok. Oblok-oblok dipilih, karena mudah dan cepat serta sederhana penyajiannya. . Meski pernah juga diganti dengan bubur kacang ijo, tetapi ternyata jamaah banyak yang meminta untuk kembali ke oblok-oblok. Dua potong roti tawar ditambah kuah manis….yang selalu terasa sedap.
Dari waktu ke waktu kegiatan tersebut semakin banyak peminatnya, karena malah dijadikan ajang silaturrahim jamaah serta warga Kauman, khususnya para “pemudik” agar bisa ketemu dengan seluruh warga dan jamaah Masjid Gedhe Kauman.

Selasa, 14 September 2010

Khutbah Hari Raya ‘Idul Fitri 1431 H

MERAYAKAN KEMANUSIAAN,
MEWUJUDKAN RAHMAT BAGI SEMESTA


Khutbah Hari Raya ‘Idul Fitri 1431 H
Di Alun-Alun Utara Yogyakarta
Dr. Hamim Ilyas, MA



Assalamu’alaikum wr. wb.


Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah!
Terlebih dahulu marilah kita memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, sehingga pada hari ini kita bisa melaksanakan anjuran agama kita, melaksanakan shalat hari raya yang diselenggarakan di alun-alun yang luas dan asri ini. Mudah-mudahan segala amal ibadah yang kita lakukan, khususnya selama bulan Ramadhan, diterima-Nya dan menghasilkan buah yang baik bagi kehidupan kita di dunia dan di akherat.


Kemudian sebagai khathib pada kesempatan khuthbah hari raya pagi hari ini, perkenankanlah kami mengingatkan diri pribadi kami dan kepada segenap jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Marilah peningkatan ketakwaan ini kita jadikan agenda spiritual dalam hidup kita, sehingga kita mengusahakannya dengan sungguh-sungguh sampai kita menjadi manusia ideal menurut agama kita, yakni manusia yang paling bertakwa kepada-Nya, sebagaimana yang difirmankan dalam S. al-Hujurat, 49: 13, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah orang yang paling bertakwa.”


Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah!
Pada hari ini kita merayakan hari raya setelah pelaksanaan kewajiban puasa di bulan Ramadhan. Hari raya itu, seperti telah kita ketahui bersama, disebut dengan ‘Idul Fithri. Dalam bahasa Arab ‘id berarti hari raya (yaum fihi jam’ wa tizkar) dan al-fithr yang dinisbatkan kepada orang berpuasa (as-shaim) berarti makan atau minum. Dengan demikian hari raya itu dimaksudkan untuk merayakan kebolehan kembali orang Islam untuk makan atau minum di siang hari, setelah sebelumnya dilarang selama berpuasa sebulan penuh di bulan ke-9 dalam kalender Hijriyah itu.

Mengapa Islam menetapkan hari mulai dibolehkannya makan atau minum di siang hari itu menjadi hari raya? Jawaban atas pertanyaan ini berkaitan dengan Islam sebagai agama fitrah, agama yang sesuai dengan asal kejadian manusia dari berbagai perspektif. Dari perspektif agama, manusia merupakan makhluk beragama yang menurut kodratnya mempercayai adanya Tuhan; dari perspektif filsafat manusia merupakan makhluk berfikir (homo sapiens) yang membutuhkan keberadaan; dari sudut individu manusia merupakan makhluk unik yang membutuhkan otonomi untuk aktualisasi diri; dari sudut sosial, manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan pergaulan dalam keluarga dan masyarakat; secara psikologis manusia merupakan makhluk berjiwa yang membutuhkan ketenteraman dan kebahagiaan; dan secara biologis, manusia merupakan makhluk hidup yang membutuhkan makan dan minum.
Agama kita (Islam) dengan ajaran-ajarannya menjawab kebutuhan manusia dari semua perspektif itu. Dia menjawab kebutuhannya akan kepercayaan kepada Tuhan dengan mengajarkan kemahaesaan dan kasih-sayang-Nya; menjawab kebutuhan keberadaan (eksistensial)-nya dengan menunjukkan bahwa yang utama bagi manusia adalah bagaimana menjadi (to be) orang yang bertakwa; menjawab kebutuhan aktualisasi dirinya dengan memberinya amanat menjadi hamba dan khalifah yang harus beribadah kepada-Nya dan memakmurkan bumi; menjawab kebutuhan sosialnya dengan menganjurkan pernikahan dan hubungan yang bersendikan persamaan, persaudaraan, kemerdekaan dan keadilan; menjawab kebutuhan psikologisnya dengan menganjurkan tawakkal, menerima diri setelah berusaha, dan zikir; dan memenuhi kebutuhan biologisnya dengan membolehkannya makan dan minum.

Berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan biologis ini, ketika Islam datang pada awal abad ke-7 M, umat beragama di berbagai belahan dunia, termasuk Arab, ketika itu, berada di bawah pengaruh spiritualisme yang sangat kuat. Di bawah pengaruh budaya yang menekankan kehidupan rohani secara berlebihan itu, mereka bersikap anti dunia, membentuk komunitas-komunitas rohani, seperti kahonim dari Yahudi, dan memiliki banyak pantangan, termasuk pantang nikah (tabattul), makan dan minum secara tidak rasional. Meskipun Islam sangat menghargai spiritualitas, ia berusaha untuk mengubah kebudayaan spiritualistis seperti itu karena tidak sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk yang multi dimensi. Jadi ‘Idul Fithri dalam pengertian yang disebutkan di atas memiliki makna kebudayaan ini.


Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah
Manusia yang menurut fitrahnya merupakan makhluk yang multi dimensi itu secara mendasar diapresiasi dalam paradigma Islam agama rahmat yang ditegaskan dalam Q.S. al-Anbiya', 21: 107:


وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.
 

Rahmat adalah riqqah taqtadli al-ihsan ila al-marhum, kelembutan yang mendorong memberikan kebaikan kepada yang dikasihi. Berdasarkan pengertian ini, maka Islam agama rahmat itu pengertiannya adalah Islam memberikan kebaikan yang aktual, kebaikan yang nyata kepada seluruh alam, tidak terbatas pada umat manusia, apalagi umat Islam saja.

Sebagai agama, Islam memberikan kebaikan yang nyata melalui ajaran-ajarannya yang otentik yang dapat ditemukan dalam al-Qur’an, di antaranya sebagai berikut: 


Pertama, agama
Agama yang diajarkan al-Qur’an dan diharapan menjadi pedoman dalam perilaku keagamaan umat Islam adalah agama dengan dasar, kerangka dan bangunan tertentu. Dasarnya adalah keimanan bahwa inti sifat Allah adalah rahmat dan Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat. Kerangka teologisnya adalah: ad-din al-qayyim (agama yang tegak karena memilki inilai-nilai spiritual, moral dan emansipatoris); ad-din al-khalish (agama murni yang menghindarkan manusia dari degradasi kehidupan) dan din al-haq (agama kebenaran yang menghindarkan manusia dari kerugian –khusr- baik sebagai pribadi, umat, masyarakat maupun bangsa). Dan bangunan organisasinya adalah Islam kaffah (keberagamaan tri-dimensi, peradaban materiel-spirituil, dan integrasi sosial-politik).


Kedua, negara.
Negara yang diajarkan al-Qur’an dan menjadi pedoman dalam perilaku hidup bernegara adalah: balad amin (negara yang aman dan damai), baldah thayyibah wa rabb ghafur (negara adil, makmur, memiliki wawasan lingkungan hidup, kejahatan di dalamnya bisa dikendalikan atau diminimalisir) dan al-balad al-amiin (negara yang amanah menjamin hak-hak asasi warga negara).


Ketiga, politik.
Politik yang diajarkan al-Qur’an adalah penyelenggaraan negara yang berdasarkan asas-asas: menjamin hak asasi warga negara (an tu’addul amanat ila ahliha), keadilan (an tahkumu bil ‘adl), konstitusionalisme (athi’ullah), negara hukum (athi’ur rasul), perwakilan (ulil amri) dan asas legalitas (farudduhu ilallah warrasul).
 

Keempat, ekonomi.
Ekonomi yang diajarkan al-Qur’an adalah ekonomi yang tidak boros dalam semua kegiatannya: produksi, distribusi dan konsumsi (wa la tubadzir, innal mubadzirin kanu ikhwanas syayathin); dan tidak mengandung kebatilan (riba, gharar, maisir, kedhaliman, dan paksaan).
 

Kelima, sosial.
Masyarakat yang diajarkan al-Qur’an dan menjadi pedoman dalam hidup bermasyarakat adalah masyarakat dengan sistem sosial egalitarianisme (kana an-nas ummah wahidah), dengan struktur sosial pluralisme (ja’alnakum syu’uban wa qabaila li ta’arafu), dengan pola interaksi yang diajarkan akomodasi, bukan persaingan dan konflik (an tabarruhum wa tuqsithu ilaihim), dan dengan kejiwaan berjiwa besar (ummatan wasatha) sehingga dalam pergaulan sesama masyarakat berusaha untuk selalu berada di depan (fastabiqul khairat).
 

Keenam, budaya.
Budaya yang diajarkan oleh al-Qur’an adalah budaya transformatif, yakni budaya dinamis dengan perubahan yang terus-menerus untuk memperbaiki kualitas kehidupan (innallah la yughayyiru ma bi qaum hatta yughayyiru ma bi anfusihim). Perubahan itu terjadi dalam semua tujuh unsur kebudayaan: peralatan dan perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian dan sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan religi.
 

Ketujuh, hukum.
Hukum yang diajarkan al-Qur’an adalah hukum yang adil (an tahkumu bil ‘adl). Hukum yang adil ini adalah yang tidak bertentangan dengan moral, sehingga hukum itu menjamin persamaan manusia, kebebasannya dan kerjasama di antara mereka. Hukum yang demikian bisa hukum Tuhan dan hukum kontrak sosial.
 

Kedelapan, pendidikan.
Pendidikan yang diajarkan al-Qur’an adalah pendidikan yang dapat mengantar peserta didik untuk hidup sejahtera (hayah thayyibah) melalui amal saleh (produksi kekayaan fisik, moral, intelektual, spiritual, sosial, dan ekonomi) dan menjadi mukmin (tidak berorientasi pada diri sendiri).
 

Kesembilan, ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan yang diajarkan al-Qur’an adalah ilmu pengetahuan yang meninggikan derajat (yarfa’illahu all-ladzina amanu minkum walladzina utul ‘ilma derajat). Derajat yang ditinggikan oleh ilmu itu adalah derajat semua bidang kehidupan, masing-masing dengan tingkatan-tingkatannya sendiri, seperti ekonomi dengan tingkatan produksi dengan tenaga manusia, tenaga hewan dan tenaga mesin. Di samping itu ilmu tersebut juga membuat pemiliknya mempunyai spiritualitas yang tinggi (innama yakhsyallah min ‘ibadihil ulama’).
 

Kesepuluh, keluarga.
Keluarga yang diajarkan al-Qur’an adalah keluarga sakinah (li taskunu ilaiha) yang berdasarkan rahmah (cinta aktual) dan mawaddah (cinta potensial). Dalam keluarga demikian, hak dan kewajiban isteri seimbang (wa lahunna mitslul ladzi ‘alaihinna bil ma’ruf) dan hubungan suami-isteri diselenggarakan dengan mu’asyarah bil ma’ruf sehingga tidak ada kekerasan dalam rumah tangga, baik kekerasan fisik, psikis, seksual maupun ekonomi.
 

Kesebelas, jihad.
Jihad pada dasarnya merupakan perjuangan atau usaha yang sungguh-sungguh untuk mempertahankan eksistensi secara sosial-politik. Pada zaman nabi jihad identik dengan perang atau qital karena untuk mempertahankan eksistensi dia dan para pengikutnya harus berperang melawan musuh yang datang ke Madinah untuk menyerbu. Apabila tidak melawan, maka mereka akan musnah, hilang eksistensinya di muka bumi. Adapun sekarang jihad identik dengan produksi karena masyarakat yang tidak dapat melakukan produksi sehingga semua kebutuhan hidup mereka tergantung pada masyarakat yang lain akan mengalami kemusnahan eksistensial secara sosial-politik.

Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah
Agama menetapkan ajaran dan umat berkewajiban mengamalkannya. Adalah kewajiban kita mengamalkan ajaran-ajaran tersebut sehingga kita dapat mewujudkan rahmat Islam bagi semesta, khususnya di Negara Republik kita tercinta. Dengan mewujudkan rahmat itu berarti kita mengamalkan nilai shalat sebagai simbol sentral dalam agama kita, memuja Tuhan (Allahu akbar) ending-nya adalah salam: menebarkan kedamaian, rahmat dan berkat-Nya.
Demikianlah khutbah kami, mudah-mudahan ada manfaatnya. Marilah kita akhiri dengan berdoa.
Wassalamu’alaikum wr. wb.